About Me


ANAK NELAYAN BELAH TOMPO

Oleh Murib Ilham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Saya anak yang kurang beruntung di masa kecil, ditunggui bapak hanya tuju tahun, saat kelas I Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sedayu Lawas, bapak pergi menghadap Ilahi meninggalkan kami untuk selamanya, tapi saya masih ingat pakerjaan bapak, 
saat musim pelayang bapak miyang menjadi belah tompo dengan oman rong uwong saat musim penghujan bapak menjadi petani yang menggarap  sawah dan ladang milik sendiri yang tidak seberapa luas, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup untuk satu musim.
Saya masih ingat, masih terngiyang-ngiyang di kepala saat bapak berangkat miyang memakai sarung yang ditngi, nyangkluk wangsal berisi tompo ada gula kopi, kobot dan mbako untuk bekal selama di laut kurang lebih tiga  hingga lima hari, perbekalan makan beras lauk pauk dan lain-lain ditanggung juragan perahu.
Meyang itu pekerjaan berat dan melelahkan hingga ada "unen-unen" ibarate kemul angin bantal ombak itu sebabnya mereka melengkapi diri dengan sarung tingen, sarung yang bahan bakunya dari kain blaco semacam kain kafan dicelup dengan kulit kayu tertentu warnanya coklat dan berobah menjadi tebal untuk melindungi dinginya angin laut saat malam.

Saya juga masih ingat, bapak itu ahli mancing setiap pulang miyang selalu membawa ikan kering banyak sekali sampai dipikul ada ikan bambangan ada ikan manyung, dua jenis ikan ini mempunyai daya jual tinggi malah ikan manyung telah naik derajat masuk rumah makan yang dikenal dengan masakan kepala ikan manyung.
Selain itu tompo yang saat berangkat  berisi gulo kopi dan mbako, pulangnya berisi ikan pindang laut, ikan-ikan ini oleh mak selain dimakan untuk keluarga sendiri juga dibagikan kepada tetangga sanak saudara, tidak banyak yang dibagikan hanya sekedarnya tapi itulah kehidupan di Desa yang suka saling berbagi guyup rukun, kebersamaan yang sangat kental, indahnya suasana kehidupan Desa.

Saya juga masih ingat bapak sangat penyayang pada keluarga saat pulang miyang anak-anak dikumpulkan disuruh nggado ikan (makan ikan tanpa nasi) ayo cung ayo nduk digado sak wareke kata bapak,  ada tunon laut ada pindang laut, memang enak karena ikan dibakar atau dipindang saat ikan benar-benar masih segar, jika kebetulan pulang minyang malam hari dan kami anak-anak sudah tidur dibangunkan seringkali bapak dapat cumi-cumi yang ukuran besar dan bertelur yang sekarang ini jarang kita temukan yang seukuran itu, biasanya kepala cumi dibuang lalu diberi biting biar telornya tidak keluar saat direbus, kami anak-anak diberi satu-satu dan suruh makan malam itu juga bapak tidak sabar menunggu besok pagi saat kami bangun, barang kali saat bapak memasak cumi itu sambil senyum- senyum membayangkan betapa senangnya anak-ananya nati saat makan cumi-cumi.
Pagi harinya bapak kembali ke Brondong tempat perahu bersandar untuk menjemur pukat dilanjutkan pembagian hasil penjualan ikan sesuai dengan oman masing-masing,
Bapak pulang membawa uang receh yang banyak minyangnya lagi along sampai kami disuruh menghitung uangnya, usai menghitung uang kami diajak makan-makan ke warung ada sate gule ada rawon minumnya ada lemon, 7 up ada es campur bau sertopnya sedap menyengat pokoknya makan mewah dizamanya, maklumlah setiap harinya hanya sarapan saplak, tiwul kalau sekarang, yah anak-anak saya ajak makan di rumah makan besar begitulah,  pulang dari makan di warung saya dibelikan bapak biscuit katanya untuk nanti di rumah rasanya enak sekali dibungkus semacam kertas minyak, sekarang saya mencari biscuit seperti itu tidak ketemu ada yang bungkusnya hampir sama tetapi rasanya beda, tidak sesenak biscuit yang dibelikan bapak dahulu, yang agak mirip rasanya biscuit Regal mari. 

Saya juga masih ingat saat mak menyimpan ikan-ikan kering hasilnya bapak mancing kedalam dandang yang terbuat dari tanah liat (gerabah) ditimbun dengan garam ikan asin bisa bertahan berbulan-bulan bahkan tahunan.
Saat musim  barat datang, angin kencang, perahu nelayan ditambatkan,  tidak ada nelayan yang berani minyang saat itulah terjadi musim paceklik bagi nelayan apalagi cuma belah tompo di Bimbing, Brodong dan sekitarnya
Selama musim playang bisa beli barang, barang-barang itu melayang terjual habis hanya untuk makan, saat itu tdak ada ikan hanya ada tahu tempe, emak memanfaatkan ikan kering yang diawetkan, terkadang emak masak sayur mangut kepala ikan bambangan rasanya maknyus, terkadang emak mbotok dengan kelapa yang agak muda yang disebut dengan bothok pedo rasanya top markotop, apalagi dimakan saat hujan rimis-rimis seharian,     saat hujan gerimis seharian tidak reda makan nasi anget ikan asin bersama-sama seluruh anggota keluaga nikmat sekali

Saya berada di petantauan merindukan kehangatan seperti itu, rindu masakan mae dudoh mangut das iwak bambangan, botok pedo kelopo enom, rindu mangan punar sambel kelopo seng dinyos ambek kereweng dibungkus godong jati enom  aroma godong jati menyatu dengan aroma punar, enak tenan di Probolingo banyak banyak nasi kuning, setiap pagi di depan rumah ada lewat menjajakan nasi kuning, tapi tidak seenak masakan emak,

Dikesendirian, saya sering merenung teringat, orang tua yang bekerja berat demi membesarkan dan mendidik anak-anaknya, mereka rela berkurban, biarlah orang tua lapar asal anak-anak kenyang.

Saat orang tua ada
kita tidak bisa berbuat apa-apa 
Kita masih kecil, miskin membebani mereka
Tapi,,, saat kita punya. Orang tua telah tiada.
Meninggalkan kita untuk selamanya 
Tidak bisa membalas jasa mereka 
kita hanya bisa mengirim do'a. 

Ya Robb. Ampuni dosa mereka, sayangi mereka seperti mereka menyangi kami sewaktu kecil, luaskan kuburnya jadikan taman-taman surga, jangan engkau siksa mereka, sebab mereka telah berjasa dsn berkurban untuk membesarkan dan mendidik kami,   aamiin ya Robbal 'Alamiin


Probolinggo, 29 juni 2019
Waktu dluha

Post a Comment

0 Comments