About Me


Aku, Kau, Kami dan Kita



 Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Harianindonesiapost.com Berawal dari artikelnya Sudono Syueb, Tidurnya Orang Puasa Ramadhan Beluk Tentu Bernilai Ibadah, yang diterbitkan oleh harianindonesiapost.com, yang di posting di grup wa alumni YTP, Ar Raudhatul Ilmiyah, maka Syeh Bukhori merespon, Kapan tiduran lagi di YTP?
   Komen Bukhori itu sebagai ekspresi kerinduannya pada pondok YTP tercinta.
   Lalu Sudono Syueb dengan santai, sambil makani ayam katenya  bertanya, Karo sopo syeh?🏃🏃🏃
   Sebuah pertanyaan sepontan yang agak "nakal". Dapat pertanyaan seperti itu, Bukhori ternyata tidak terpancing, dan dengan enteng dia jawab, Guling Yai 😃🤭.

 Dengan membayangkan suasana pondok YTP tempo dulu, peninggalan Syaikhona Kiai Salim Achyar, yang diteruskan oleh Yai Mustain Kastam, Sudono Syueb lalu berbisik, Kita sudah kehilangan bilik kayu  yg kita tempati di YTP dulu syeh...😭😭😭

Syeh Bukhori lalu mengenang kebersamaan saat makan nasi liwet iwak silep dengan sambel korek trasi di atas talam sambil duduk melingkar, "Ayo bungkus nasi, makan di talam 👍👍👍!
   Tak lama kemudian yai Mubarrok nimpali soal bilik kayu yang sudah tidak ada lagi di YTP, Biliknya hilang tp rasanya takkan perna hilang yai.
   Dingatkan soal rasa bilik kayu yang tak pernah hilang itu, Sudono Syueb lantas berceloteh:


"Bilik kayu"

Bilik kayu itu
Yang kita tempati di YTP dulu
Sebagai saksi bisu
Selama kita nyantri dulu
Sekarang entah dimana dirimu

3-6 tahun kita selalu bersamamu
Kau hibur diriku
Manakala kiriman belum mertamu
Dengan mendekapku
Setiap waktu
Hingga terlelap 
Sampai lupa perut belum terisi sejak kemarin dulu
Hanya air yang selalu kujamu 

Kini aku rindu dekapanmu
Aku ingin bermimpi di bilik kayu itu

 Hadirkan kenangan 
masa masa indah di Taman Pengetahuan

Rasa itu
Yang yang selalu hadir dalam hidupku
Dan selalu jadi rambu rambu
Bahwa hidup ini hanya sementara waktu
Kalau bisa mimpi di bilik kayu
Kenapa mesti mengejar harta buat istana sampai lupa waktu....
   Mungkin terpancing dengan celotehan Sudono Syueb,  yai Mubarrok lalu menyambung, Datang bersama air mata, pergi pun dengan air mata.
   Berikutnya Sudono Syueb menjawab:

Tak ada harta yang kita bawa
Tidak juga keluarga
Hanya ibadah dan amal sholih yang kita bawa
Juga taqwa
Itu pun jika ada ridha dari-Nya
   Bukhori yang sejak tadi mengikuti obrolan kami dengan Ya Mubarrok iku meneteska Air mata 😭😭.
   Tak lama kemudian Bukhori menulis puisi dengan hudul,

 "Aku-Kau-Kami dan Kita"

By: Bukhori At Tunisi

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UIN SuKa, Yogyakarta)


Aku
Aku adalah kau
Kau adalah kita
Kita adalah kami
Kami adalah mereka
Mereka adalah kita
Aku
Kau
Kita
Kami
Mereka
Sama
Hidup di rahim YTP
Dilahirkan dari rahim YTP

Nafasnya sama
Nafas Agama
Nafas santri
Nafas keilmuan
Nafas kitab suci
Nafas kitab kuning
Nafas kritis
Nafas mencari kebenaran
Nafas tak mau menyerah
Kecuali kebenaran
Nafas munaqasyah
Nafas pantang menyerah
Nafas menyerah dan
Pasrah hanya pada firman Allah
Sabda Rasul
Logika mantiqy
Yang shahih
Naqli yang sharih
Itulah nafas kita
Nafas YTP


Aku dan kau
Kita dan kami
Mereka dan aku
Sama

Berkelana
Tapi tak lupa nafas yang keluar dari rahim YTP

Doeloe menangis
Mau berlayar ke mana
Berlabuh di muara apa
A salah
U salag
I salah
O salah

Yang benar: 
a nashab
u rofa'
i jar
o : jazm

Why, karena ada mahal
Mahal nashob, rofa', jar, jazm.

Oh begitu
Ya

Karena a, i, u, o, itu ada makna
Ada hukum
Ada natijah
Ada sebab 
Ada akibat
Itu istibath

Qadliyah harus banar
Biar natijah shahih

Itulah YTP

Kita menghirup udara segar
Hembusan kali Brantas
Menelusuri rel tua
Peninggalan Belanda
Dari keringat bangsa
Hasil kerja paksa
Rodi namanya
Ribuan nyawa melayang
Sekarang, cuma dipandang
Doeloe, berguguran
Para pejuang

Santri YTP berjuang
Di berbagai bidang
Agar tak jadi kuli
Di negeri sendiri
Juga tidak jadi kuli
Pemikiran yang lain
Tapi
Mandiri


Sang pendiri
Syaikhona Salim Akhyar
Mengimpikan
Santri YTP
Terbang tinggi ke angkasa
Jadi rajawali
Mengepakkan sayap tinggi
Melihat dengan jeli
Jangan berdiam diri
Cari
Di mana saja
Di seantero negeri
Kebenaran yang pasti

Jangan duduk sunyi
Mengeram sendiri
Bak katak dalam tempurung
Merasa tinggi
Bak langit
Ternyata:
Batok kelapa

Betapa nista

Rajawali
Terbanglah tinggi
Masyayikhmu menanti di sana
Baktimu ke negeri
Ke Agama dan
Bangsamu

Jariyahnya
Kan mengalir deras
Hingga akhir nanti

YTP
Tak pernah mati
Nadi-mu 
Ijtihad-mu
Itulah hidup
Dan matimu
[22:19, 10/6/2019] dosen pembimbing: Sejurus kemudian Yai Mubarrok menulis puisi dengan judul,

 Aku

By: Ustadz Mubarrok

Aku, 
Aku bagian dari aroma sabun giv, yang keluar dari celah pintu kotakan santri, 
Aku, 
Aku bagian dari aroma pindang jui yang tercium dari dapur santri, 
Aku, 
Aku bagian dari pengguna kamar mandi yang selalu terhiasi okeh cacing dan jentik2,
Aku, 
Aku bagian dari ribuan santri yang dididik para yai yang sabar dan ikhlas, 
Dan kini, 
Aku, 
Aku bagian dari para alumni yang menyebar di seluruh penjuru nusantara,
...
   Disusul kemudian Yai Murib Ilham dengan puisinya,

 PENJARA SUCI

By. Murib Ilham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UINSA, Surabaya)

Tidur di lantai beralaskan tikar pandan
Bantal satu berbagi sama teman
Tak ada kipas angin apalagi pendingin ruangan
Pengap bau keringat menyengat

Bangun pagi antri mandi
Menimba air sendiri
Tak ada pompa tangan
Apalagi pompa elektrik
Keluarkan tenaga setiap pagi

Makan dari nasi liwet
Lauk sambel korek ikan gereh disilep
Minum air intip hanya dinget anget
Tak ada air mineral apalagi dessert


Sunyi tak ada hiburan
Nonton bioskup langgar aturan
Langgar jam malam kena hukuman
sekali salah rambut gondrong melayang
Tiga kali diusir pulang
Tak ada ampun pelanggar larangan
Disiplin harus ditegakkan

Kala tanggung bulan
Perbekalan menipis mulai berkurang
Layangkan surat orang tua minta kiriman
Datang wesel bakal terima uang
Tak ada alat komonikasi, HP apalagi transfer lewat ATM atau Bank

Susahnya saat kiriman telat datang
Melayang surat balasan orang tua tak punya uang
Mau nyimbat makan malu sama teman
Pinjam uang kesana kemari,,,
Tak ada yang bisa diharapkan

Saat musim giling tiba
Hilir mudik lori mengangkut tebu
Sekedar mengganjal perut kosong santri mengejar lori berlari tuk mendapatkan sebatang dua batang tebu tuk dimakan
Bila tempat tebangan tebu relatif dekat, santri datang sekedar makan tebu tuk mengisi perut kosong
Atau jalan ke plasmen Desa Lestari hanya untuk makan tebu
Terkadang santri diusir PK yang tak punya rasa iba malah ada teman yang diamankan
Bila super baik pulang bisa nunut naik truk

Kawan,,, ini suasana kebatinan satri dahulu kala
Hidup prihatin berselimutkan suka duka
Tapi kawan,,,
Tak ada muram tak ada durja, wajah tampak selalu ceria
Mereka punya asa yang menggelora
Wujudkan mimpi mengejar cita-cita

Cita-cita mulia membanggakan orang tua, menjadi kyai yang selalu dinanti
Wejangan sang kyai yang bijak terpuji
Ucapanya berbobot, menarik, menyejukkan hati
Setiap orang bersimpatik dan takzhim pada sang kyai

Di penjara suci santri mengaji
Dari pagi hingga petang hari
Menimba ilmu mengasah akal budi
Biar petir menyambar tetap terus belajar
Biar hujan mengguyur bumi tetap terus mengkaji kitabullah dan sunnah Nabi

Di malam hening saat pintu langit terbuka lebar
Aku, kamu dan kita rukuk, sujud mendekap dia erat-erat, renkuhkan kedua tangan bermunajat
Ya Robb,,, karuniai ilmu yang manfaat, rizqi yang berkat dan fisik yang sehat agar mampu mengemban tugas suci sebagai pelayan-pelayan AgamaMu nanti  aamiin
   Tak ketinggalan Yi Ihasanuddin juga menulis puisi,

 YTP-ku Tempo Dulu

By: lhsanuddin

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)


Bilik selatan musholla
Bilik bercendela tunggal
Lembap memang
namun penuh kenangan
Dapur kumuh 
Kayu bakar berserakan
Manci hitam pekat 
bekas jilatan api kayu
Atau bekas jilatan api kompor minyak
Aroma ikan silep berpadu dengan harumnya sambal korek
Bikin perut keroncongan
Semua tinggal kenangan
Kolah besar tempat kita mandi dan bersuci
Berggilir kita mengisi
Tanpa perintah pun kita lakukan
Kerja ikhlas tanpa paksaan


YTP ku tempo dulu
   Lalu des rede puisi ini ditutup dengan puisi cintanya tadz Murtadla,

 Puisi Cinta

Oleh: M. Murtadlo Hs.
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)


Ku angkat penaku
Ku buka lembaran kertas yang baru
Ku tuliskan puisi cinta
Kepada bidadariku
Tuk ungkapkan seluruh rasaku
Puisi cintaku berbalas
Tak bertepuk sebelah tangan
Rasaku melambung ke angkasa, menggema
Menembus seluruh penjuru jagad raya
Rasa itu menetes bagai embun
Sejuk menyelimuti seluruh relung jiwa
Rasa itu...
Tumbuh berkuncup
Setia menanti tetesan embun sang bidadari
Rasa itu tumbuh...mekar
Bersama tumbuh dan mekarnya bunga-bunga 
Indah
harum nan elok di pandang mata
Rasa itu....
Cinta itu.....
Tak akan lekang di telan waktu
Dan tak akan hilang ditelan jaman

Post a Comment

0 Comments