SEPENGGAL NOSTALGIA


Oleh: Drs. H. Murib Ilham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan sekarang jadi PNS di Probolinggo)

   Harianindonesiapost.com Pagi  itu seperti biasanya kami para santri keluar kamar sambil memanggul kitab-kitab besar berangkat menuju Madrasah, kami tidak menggunakan tas, sebab tas sekolah tidak cukup besar untuk menampung kitab-kitab besar, jarak tempuh kami ke Madrasah dari pondok timur kurang lebih setengah kilo meter, jika musim kemarau ada jalan pintas yang memperpendek jarak tempuh, tapi jika musim penghujan apalagi banjir banyak barang kali yang terapung,  kami lewat jalan raya menyusuri teras-teras pertokoan dengan jarak tempuh lebih jauh, karena harus memutar.

Kegiatan rutinitas tersebut, kami jalani dengan semangat tinggi penuh suka cita walaupun banyak diantara kami yang tidak makan pagi, ada memang yang ke warung bu Manggon, hanya sekedar minum secangkir kopi dan mengisap sepatang rokok eceran yang diolesi lethek kopi tetapi itu sudah cukup memberikan energi untuk jihad melawan kebodohan, menuntut ilmu.

Kegiatan belajar mengajar di pesantren kami, YTP, Kertosono, tergolong unik, kiyai dan santi tidak beraudiensi secara langsung, santri belajar di ruang kelas sementara kyai selaku  sang guru berada di dalam bilik bambu yang terhimpit antara ruang kelas putra di bagian selatan dan ruang kelas putri di bagian utara, proses belajar santri membaca kitab yang menjadi mata pelajaran hari itu, yang dimaknai dengan bahasa Indonesia, kyai sang guru mendengarkan  dari dalam bilik bambu, kami tidak pernah tahu posisi kyai, apakah sedang duduk di belakang meja sambil nyemak kitab yang kami baca atau sambil beristirahat di atas tempat tidur, posisi apapun kyai saat mrngajar, kami tetap semangat, kebiasaan kyai mengajar tidak pernah membawa kitab, beliau bisa menjelaskan dengan cair hanya dengan mendengar yang dibacakan oleh santri.

Hari itu kami telah siap memulai pelajaran ada diantara teman gaduh, senda gurau tertawa cekikikan, tak lama kemudian...
. Duuuuaaarr........
palang pintu melayang dari bilik bambu, jatuh tepat di bangku yang kududuki syukur tidak menyasar kepalaku, aku biasa duduk di deretan bangku paling depan mendekat dengan sekat bambu agar dekat dengan kyai dengan harapan bisa diambil mantu, kata mas dos Sudono.
Suasana jadi hening dan
 GRADAAAAAK pintu bambu terbuka, kyai keluar mbrabak, wajah merah menahan marah mencari teman kami yang tadi guyon sambil ketawa-ketawa, yang mana sudah teridentifikasi oleh kyai siapa dia dari ketawanya lalu.... PERAAAAK,,,,,,PERAAAAK,,,,,,PERAAAAK,,,,,, suasana bertambah hening hanya terdengar murka kyai.

Menjadi tradisi kami para santri apabila bersalah menerima hukuman tidak memendam dendam, sakit hati apalagi lapor polisi, tentu berbeda dengan dunia pendidikan saat ini, guru diposisikan pada situasi yang serba salah menegakkan disiplin salah bisa-bisa dipolisikan, dibiarkan juga salah, guru kehilangan wibawa, bahkan putus asa,  yah yang penting ngajar.

Akhir cerita hari itu kami memulai belajar dalam suasana yang tegang, tidak begitu nyaman. Pengalaman yang menegangkan ini tertanam dalam memori  kami untuk dijadikan i'tibar dalam menjalani kehidupan. 
Walaupun begitu kami tidak pernah  sakit hati pada kyai, karena hukuman dari kyai, apapun bentuknya, itu merupakan pelajaran adab atau akhlak yang penuh hikmah, yang keluar dari kecintaan sang kyai pada para santrinya, dan kami ikhlas menerimanya. 

Probolinggo, 13 Mei 2019 (usai sholat tarawih)

Post a Comment

0 Comments