About Me


Orang Sukabumi Islamnya Garis Keras?


Oleh: Delianur 

(Mantan Ketum PB PII dan Pengamat Sosial Politik)


   Harianindonesiapost.com Kalau Jawa Barat disebutkan sebagai lumbung suara
bagi Prabowo pada pemilu 2014 dan 2019, maka bila
mencermati lebih detail, adalah Sukabumi yang
memberikan kontribusi suara tertinggi bagi Prabowo
di Jawa Barat. Ada 69% warga Kota Sukabumi dan
68% warga Kabupaten Sukabumi yang memilih
Prabowo pada tahun 2014. Tertinggi se-Jabar 1
   Sedangkan pada tahun ini dari data-data sementara
beberapa kalangan memprediksi dukungan terhadap
Prabowo turun sekitar 2%, namun ittu dianggap wajar
Karena timses Prabowo hanya kampanye layaknya
penantang yg tidak punya sumberdaya. Tidak ada
sesuatu yang lebih dari kampanyenya selain dari
melambaikan tangan.  
   Sementara kompetitor bukan
hanya datang ke kota ini dengan berbagai macam
bansos, CSR BUMN dan program APBN, tapi juga
intensitas kedatangan pejabat tinggi nya. Mulai dari
Mentri, Mentri segala urusan sampai dengan Presiden
entah sudah berapa kali bolak-balik ke Sukabumi
dalam lima tahun terakhir ini.
   Sukabumi sendiri pasca kemerdekaan dipimpin oleh
Walikota seorang aktivis Masyumi peraih gelar Cum
Laude dari Leiden University Belanda jurusan Ilmu Hukum sehingga bergelar Mr atau Maaster in Recht.
Dia anggota BPUPKI yang tidak hanya dihormati
Presiden pertama Indonesia, tetapi juga diapresiasi
warganya. Karenanya setelah Ir. Soekarno
memerintahkan nama Walikota pertama ini diabadikan
menjadi nama Jalan protokol di Sukabumi, warganya
juga menjadikan namanya sebagai nama RSUD Kota
ini; Rumah Sakit R. Syamsudin. Sebuah Rumah Sakit
yang tidak hanya menjadi rujukan Warga Sukabumi,
tetapi juga sebagian tetangganya di Cianjur dan salah
satu penyumbang PAD (Pendapata Asli Daerah)
terbesar Kota Sukabumi.
   Dulu di Kota ini ada seorang Ulama besar bernama
Kyai Ahmad Sanusi. Beliau juga anggota BPUPKI yang
terlibat dalam perumusan dan penetapan NKRI,
Pancasila dan UUD 1945. Konon Soekarno, Hatta, juga
Buya Hamka bila ke Sukabumi mesti singgah ke
rumah Kyai Sanusi.
Kyai Sanusi kalau menulis untuk bahan ceramah atau
mengajar, dia memakai tulisan Arab berbahasa Sunda
atau Arab Pegon. Jadi kalau orang sekarang
mengatakan Islam Nusantara yang bermakna
apresiasi terhadap nilai-nilai lokal, maka Kyai Sanusi
sudah melakukan itu juga di Sukabumi. Karena
masyarakat merasa lebih afdhal belajar Agama Islam
melalui Bahasa Arab, beliau tidak menghilangkan
Bahasa Sunda dalam pengajaran Agama pada
masyarakat
   Orang Indonesia sering menyebut NU dan
Muhamadiyyah sebagai organisasi Islam moderat.
Namun orang mafhum bahwa keduanya sering
bersitegang masalah furulyyah seperti boleh tidaknya
tahlil. Kyai Ahmad Sanusi dan murid-muridnya kadang
sering disebut sebagai orang Muhamadiyyah/Persis
yang membolehkan tahlil. Artinya, beliau adalah se
moderat-moderatnya orang moderat. Karena beliau
bisa berada di tengah konflik dua kelompok Agama
yang dianggap moderat.
Ketika gerakan DI/TII meletus di Priangan Timur, Kyai Sanusi bersikap tegas sekaligus empatik. Kepada
Partainya, Masyumi, beliau memberikan penjelasan
teologis dan fiqih kenapa gerakan DI/TIl mesti ditolak.
Selain itu, beliau juga mengintruksikan seluruh murid
nya untuk menolak dan merangkul orang-orang yang
terlibat dalam gerakan tersebut. Karenanya, beberapa
muridnya meskipun kontra dengan pengikut Imam
Kartosoewirjo, tetapi juga tetap disegani.
   Pada Zaman now, warga Kota Sukabumi bukan hanya pernah dipimpin seorang Ahmadiyyah, bahkan juga
sudah memilih seorang anggota parlemen untuk
mewakili mereka yang jelas mengatakan dirinya
bangga sebagai anak PKI: Ribka Tjiptaning.
   Saya tidak pernah mendengar adanya gejolak sosial
serius berkaitan dengan status Ahmadiyyah nya
pemimpin Kota ini. Problem yang saya dengar justru seputar kebijakan Tata Kota، utamanya masalah pasar
Saya juga belum mendengar adanya serangan atau tindak kekerasan terhadap Rumah Sakit gratis yang
didirikan Ribka Tjiptaning hanya karena dia PKI
Rumah Sakit tersebut sekarang memang sudah tidak beroperasi lagi. Tapi saya melihatnya karena faktor
kompetisi dan manajemen. Karena hanya beberapa
meter dari RS itu, Pemerintah Kota sudah membangun
Rumahı Sakit yang jauh lebih baik, representatif serta
sama-sama gratis.
   Dari Sukabumi juga lahir intellektual muslim yg diakui
reputasinya bernama Yudi Latif Ph.D. Beliau bukan
hanya pakar tentang Pancasila atau kebhinekaan
sehingga bukunya tentang Pancasila sudah menjadi
Hand Book, tetapi orang yang diakui sebagai perumus
konsep awal BPIP (Badan Pembinaan Ideologi
Pancasila) dan juga menjadi Ketua pertamanya yang
tetap bekerja meski tidak mendapat gaji.
   Kalau sedang ingat hal hal diatas lalu ingat kembali
label Islam garis keras terhadap daerah yang milih
Prabowo, sebagai orang Sukabumi saya jadi pingin
gigit kuping sendiri. Agak bingung mernahami warga di Kota kelahiran saya adalah penganut Islam garis keras.(Sudono/Ed)

Post a Comment

0 Comments