Mereka Yang Rugi, Dibulan Suci



Adam bachtiar (Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Kepintaran manusia sudah semestinya menjadi tumpuhkan dari setiap konsekwensi kecerdasan daripada otak dan hasil belajar,  Manusia dengan kecerdasan otak sering di untungkan dibandingkan dengan yang berotak minimalis. Dalam hal menangkap, merabah, dan memahami kehidupan. Namun sangat disayangkan kadang yang berotak cerdas masih kalah dengan yang berotak minimalis dalam kaitanya kesuksesan.

Di bulan ramdhan ini, kita sadari bahwa setiap kebaikan didatangkan oleh Allah melalaui ganjaran yang tak ternilai besarnya. Melalui rutinitas peribadatan yang cukup menguntungkan,  beramaliyah sesuai dengan tuntutan dan sunahnya. Membuat pahala dari setiap yang dikerjakan kaum muslim dilipatgandakan ganjaranya. Maka berlombalah manusia ketika bulan suci datang.

Menjapankan puasa, sholat, bersedakah, dan berbuat baik. Adalah Bagain  yang harusnya dicari di bulan penuh rahmat ini. Meskipun kadang berat prakteknya. Mau tatau tidak  manusia perlu memotivasi dirinya Agar tidak termasuk manusia yang lembek dalam mengaktualisasikan setiap potensi dirinya. Krena  bila potensi manusia jika terlalu di biarkan dengan sendirinya manusia akan terkontruksi dengan berbagai hal yang negatif. Seperti menunda-nunda shalat dan lain sebagainya.

Ujian terberat dibulan suci. Adalah kosistensi atau keistiqomahan. Hal ini  sering kita jumpai pada pertenghan ramdhan, seperti degradasi keimanan yang mulai nampak. Dimulai adanya Kemshorotan ibadah yang datang bertubi-tubi. Bahkan puasa wajib tidak dijadikan alasan untuk berpuasa, padahal pibadah puasa dan shalat merupakan sebuah kefundamentalisan. Yang kaitanya, jika nanti dihubungkan akan menyebabkan tergerusnya krisis keimanan seseorang.  Padahal, pada awal ramadhan dan akhiran ramdhan. Animo manusia ketika berjmaah menjadi point positif yang patut di apreasisai sebagai kebangaaan.

Dari sini kita menyadari. Bahwa kecerdasan otak itu perlu, setidaknya untuk merangsang bagiamana nilai-nilai dasar keimanan itu diperlukan. Memahami makna dan isi daripada tuntutan teks (Al-qur'an dan sunnah) dengan mengimplmentasikan hasil daripada belajar pada sebuah tekst. Sehinga embrionya mampu memformulasikan kecerdasan, entah kecerdasan keimanan atau kecerdasan keilmuan. Dengan harapa agar mampu Memberikan sebuah ketetapan bahwa manusai yang berfikir  dan mau belajar sunguh-sunguh. Ia cendrung memahami sebuah artikulasi pemaknaan. Seperti memaknai bulan ramdhan. Dan memaknai sebuah ibadah.

Kesadaran diri sangat diperlukan khusunya menjelang 9 hari terakhir dibulan ramadhan. Dengan Meningkatan kualitas ibadah, menambah amalan-amalan kebaikan. Dan mengerjakan seseuata yang baik.  Menepatkan posisi manusia dimata Allah sebagai maqluk  yang mengunakan akalnya dan selalu belajar untuk menjadi insan yang lebih baik. Prediket maqluk yang baik menurut Samuel Hutington "ia mampu mengunakan akalnya dan mau mengintropeksi apa yang kurang dan apa yang belum pada dirinya.

Lantas. Jika prediket baik sudah dicapai manusia pada bulan ramdhan yang penuh berkah ini. sebagai insan yang mengunakan akalnya. Apa lantas prediket buruk itu disematkan pada mereka yang tidak mengunakan akalnya dan engan mau belajar pada suatu kebaikan. Mungkin kita nanti akan menyadari sematan yang layak bagi siapa yang benar-benar pantas mendapatkan dibulan ramdhan yang penuh berkah ini. Konteksnya dalam hal ini orang yang paling merugi. Menurut Ustadz anim  "Orang yang merugi ialah orang yang tidak mengunakan waktunya dengan baik"  

Maka, di moment bulan puasa ini. Selagi prediket baik dan tidak baiknya belum di sematkan kepada kita, perlu kiranya menambah setiap amaliyah dibulan ramdhan ini. Seperti meningkatkan kualitas keimanan dan peribadatan. Sebab bila kita tidak mendapatkan keberkahan dibulan ramadhan ini. Dan lebih mengasah madharat. Maka perediket sebagai orang yang merugi layak bagi kita untuk menyandangnya.

Post a Comment

0 Comments