About Me


Kiai dan Penjual Dawet Tradisional

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan sekarang jadi Guru Swasta)


   Harianindonesiapost.com Ketika saya masih di Yogyakarta dulu, saya mengikuti takdir saya, mengalir, pantarhei hingga bisa ketemu dengan sahabat sahabat muda aktifis keumatan, seperti komunitas saya di Jatim dulu, yang selalu melatih diri untuk menjadi pelaku perubahan, dengan mengisi dirinya dengan kegiatan kegiatan  kepelajaran, keumatan dan kenegaraan. Yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII ) Yogyakarta. Sampai kemudian saya bisa jadi pengurus harian tingkat Pengurus  Wilayah Pelajar lslam lndonesia (PW PII) Yogyakarta Besar yang wilayahnya meliputi DIY, Magelang, Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap..
   Setiap minggu kami diskusi tentang perkembangan organisasi, program organisasi dan isu isu aktual saat itu. 
Setiap liburan sekolah, kami isi dengan  training training kepemimpinan dasar seperti Leadership Basic Training (LBT), Mental Tarining (MenTra), Perkampungan Kerja Pelajar (PKP) dan jenjang training pamungkas yaitu Leadership Advance Training (LAT).
    Untuk nge-charge  batrei diri, biasanya kami silaturrahim ke kediaman para tokoh masyarakat baik cendikiawan, politisi, ulama dan juga para pelaku usaha di seputar DIY, untuk nge-charge otak kanan dan kiri. Seperti Prof. Dr. Tholhah Manshur, Kyai Hamam Dja'far dll.
   Suatu saat, kami bersama Pengurus Harian PW PII Yogyakarta Besar, silaturrahim pada  seorang ulama kondang, Pakyai Hamam Dja'far Allahuyarhamhu, pengasuh pondok pesantren Pabelan, Muntilan, Magelang pada malam hari. Kami minta nasihat, penguatan perjuangan dll. Biasanya Kyai Hamam tidak monolog saja tapi  juga dialog. Kami bisa menerima masukannya dan juga bisa menolak dengan mengajukan argumen khas anak muda. Kyai Hamam yang mantan aktivis PII di Pondok Modern Gontor dan juga aktivis dakwah, bisa memahami sikap kami, bahkan memberi ruang diskusi yang sangat lebar. 


   Di tengah tengah kami diskusi itu, Kyai Hamam bercerita, suatu saat kami kedatangan tamu rombongan dari Jakarta. Untuk persiapan makan siang, kami carikan  minuman khas Muntilan yaitu Dawet Pasar  Muntilan. Kepada penjual dawet itu saya bilang, bapak, dawet sampeyan  mau saya borong semua untuk tamu saya. Si penjual dawet kaget. Mungkin dia senang karena dawetnya cepat habis dan segera pulang. Eh, ternyata dugaan saya salah, dia menolak secara halus dawetnya saya borong semua. Kata penjual dawet, Kulo remen  menawi dawet kulo sampyan borong sedoyo Pakyai. Neng kados pundi langganan kulo mangke nek kepingin ngunjuk dawet kulo lha mboten sage, soale kulo sampun wangsul. Milo pangapunten sanget Pakyai, ampun sampyan borong dawet kulo. Nek bade bungkus gangsal ngantos sedoso tasih saget, Pakyai, monggo. Pangapunten Pakyai. (Saya senang kalau dawet saya sampyan borong semua Pakyai. Tapi bagaimana dengan langganan saya nanti kalau kepingin minum dawet saya lha tidak bisa. Maka itu, mohon jangan diborong semua dawet saya. Tapikalau  mau bungkus lima (5) sampai sepuluh (10) masih bisa Pakyai,  monggo. Mohon maaf Pakyai).


   Pakyai Hamam menarik napas panjang, nampak raut mukanya sedih sambil istighfar berkali kali. Suasana jadi hening, kami semua diem menunggu lanjutan ceritanya.    
   Tak lama kemudian Pakyai melanjutkan, luar biasa penjual dawet itu, dia lebih mengutamakan kepercayaan pelanggan dari pada dapat uang cepat. Saya jadi merasa kecil dan tidak ada apa apanya di depan dia. "Nggeh pak Kulo bungkus sedoso mawon".   
   Setelah bayar dawet sepuluh bungkus, lalu saya cepat cepat pulang. Sasampai di pondok, saya cepat ambil air wudhu lalu sholat taubat sambil menangis dan istighfar berkali kali. Ya Allah, betapa bodohnya saya ini di hadapanMu dan dihadapan penjual dawet itu. 
   Ketika cerita Kyai Hamam dengan penjual dawet itu saya ceritakan lagi di GWA KBPII Yogya lalu kang Dr. Ahmad Roziqin, mantan komisioner KPU kota Bandung, memberi komen, Kenangan yg sangat penuh makna. bagaimana seorang Kyai Hamam " belajar" dengan tukang dawet. Persis seperti Imam Abu Hanifah yang belajar dari anak kecil yg pake sandal teklek.


   Lalu saya menyambung komennya kang Roziqin, Mung lintasan kenangan yang tak  terlupakan bersama Yai Hamam Dja'far Almaghfirullah bersama kang Syafruddin dan teman teman  PW PII YOGBES thn 80an kang Roziqin.
   Kang Roziqin, nambahi, Yai Hamam dan Imam Abu Hanifah sama sama tersungkur menangis. 😭😭😭
    "Kelihatannya memang belajar tentang kearifan lebih  pas dari 
 "orang kecil". Belajar keangkuhan dari pejabat. Belajar kelicikan dari politisi. Belajar kedunguan dr profesor. Belajar kecurangan dari penyelenggara pemilihan.


Tentu tidak semua begitu. Selalu ada yang waras", tegas kang Roziqin.
    Kang Ahmad Subagio, seorang pilitisi senior menutup perbincangan tentang Kyai dan Penjual Dawet ini cukup manis, Kyai Hamam iku guru politik sejati.. banyak jurus jurus beliau yang terbukti ampuh tak pake selama jadi politisi. Pak kyai Hamam juga mengajarkan berpolitik dengan cara yg sangat komunikatif, cerdas, humanis dan tetap menjunjung tinggi etika atau akhlak  politik.. mengalir dinamis tapi tidak hanyut oleh arus besar politik.

Post a Comment

0 Comments