About Me


CerKak

 
Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Sekarang Ngajar di Fikom- Unitomo, Surabaya)

Jadi "Pemulung" Dadakan

Harianindonesiapost.com Alkisah, suatu saat sy membersihkan sampah kering  depan masjid berupa beberapa kardus dan puluhan botol dan gelas plastik bekas air kemasan, untuk sy masukkan ke dalam kantong plastik besar. Itu sampah barusan ditaruh di bak sampah depan masjid habis dibuat takjil puasa romadhon. 
Sudah jamak, kalo romadhon sampah di depan masjid melimpah setiap malam karena banyak Muhsinin yang memberi makanan dan minuman. Masjid jadi ramai sekali setiap jelang magrib. Karena banyak bapak, ibu , remaja dan terlebih anak anak yang buka puasa di masjid. 
Banyaknya makanan dan minuman memang harus berbanding lurus dengan banyaknya orang yang makan, kalau tidak bisa jadi mubadzir. Untuk itu, takmit selalu ingatkan supaya para jamaah datang ke masjid jelang buka. 


   Ketika saya sedang membersihkan itu, ada tamu sekeluarga bermobil mewah tak dikenal datang mau sholat magrib di masjid kami. Mereka lihat sy, lalu bisik bisik sama anaknya. Tak lama kemudian anaknya mengambil sesuatu dari mobil dekati saya sambil menyodorkan segenggam uang dan bilang, monggo pak, ini ada sedikit rizki untuk tambahan bapak hari ini.
   Sy kaget sekaligus geli sambil melirik uang yg disorongkan ke sy. Sekilas sy lihat warna merah semua.🤣
   Apa memang tampang saya cukup layak jadi pemulung ya kok mengundang orang iba 🤣🤣🤣.
   Karena saya masih kaget,l dan bengong  anak itu bilang lagi, Monggo lho pak diterima saja, ini sebagian zakat  mal keluarga kami.
   "Baik baik sy terima ya mas. Alhamdu lillah dan terimakasih mas dan bapak. Tapi mohon maaf, zakatnya mau saya masukkan ke dalam kas masjid. Jazakulullah Khoiron katsiiroo... Matur nuwun... matur nuwun", kata sy sambil bungkuk bungkuk menerima zakat itu, lumayan ada sekitar 5 jt. 😃😃😃
Dan langsung sy masukkan ke dalam kotak masjid. 
   Selanjutnya yang bengong keluarga yang memberi zakat malnya ke saya. Sepertinya mereka tidak percaya uang 5 juta itu saya masukkan semua ke kas masjid. Sebetulnya mereka mau mencegah, tapi kalah cepat dengan gerakan tangan saya yang buru buru masukkan uang itu ke kas masjid.
Lalu bapaknya mendekati saya sambil berbisik, sebetulnya untuk masjid sudah kami siapkan bapak. 
"Tapi kalau bapak mau, masih ada zakat mal dengan jumlah yang sama untuk bapak", kata bapak tamu itu.


"Alhamdu lillah... Matur nuwun bapak. Kalau masih ada zakat nalnya, Monggo dimasukkan saja ke kas masjid, atau kalau bapak berkenan, saya tunjukkan beberapa keluarga dhuafa', janda janda tua di sekitar masjid ini", jawabku terbata bata karena terharu ke-muhsinin-an keluarga ini.
Bapak tamu itu setuju. Setelah sholat Maghrib, saya antar mereka ke beberap kelurga dhuafa' dan janda tua. Masing masing keluarga dapat santunan satu jutaan. Alhamdu lillaah....
   Setelah mengantar tamu ke beberapa keluarga dhuafa' dan janda janda tua, saya kembali ke masjid untuk persiapan sholat Isyak berjamaah dan lanjut sholat trawih atau tarowih. 

Ada takmir yang lihat saya ke masjid lagi dan bilang,  rizkinya anak Sholih pak 😃😃😃
"Bukan, rizkinya masjid", jawab sy 😃😃😃🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Sekian...

Post a Comment

0 Comments