About Me


SIMA’[K]


Oleh: Bukhori at-Tunisi
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis buku: “Fithrah sebagai Basic Psikologis Pembelajaran al-Qur’an”)

Harianindonesiapost.com Kata sima’[k], sering diucapkan oleh guru di dalam kelas, atau dosen di ruang kuliah, atau pun juga diucapkan oleh guru ngaji saat memberikan “ta’lim” kepada murid-muridnya, namun mendengan ucapan tersebut, sangat mengganggu fikiran, karena beda maksud dari apa yang diucapkannya dengan makna yang sebenarnya. Ssaat “chatt” di WA, kadang ada yang menulis, “Saya nyimak saja.” Tentu yang dimaksud “nyimak” dalam tulisan tersebut adalah “melihat”. Ada kesalahan linguistik, khususnya di ranah semantik, karena kebiasaan menggunakan ungkapan kata-kata tertentu, namun karena sudah menjadi kebiasaan sehingga dianggap benar. Padahal secara semantik salah dan bertolak belakang.

Antara “kata” dengan “makna” seharusnya berkait berkelindan, menjadi satu kesatuan yang tak terpisah, walaupun bisa dibedakan. Ibarat mata uang, ia memiliki 2 (dua) mata sisi yang berbeda, namun menjadi satu kesatuan. Kata, lafazh, bahasa adalah “ungkapan” merupakan wakil, representasi dari “makna”, “keinginan”, “maksud”, yang hendak disampaikan. Ungkapan memang tidak harus dengan kata-kata, atau ucapan verbal, isyarat pun juga bisa, bahkan tubuh pun bisa berkomunikasi, yang disebut “bahasa tubuh” (body language). Oleh sebab itu, dengan bahasa isyarat, orang lain mengerti. Orang bisu pun bisa berbahasa, walaupun bukan bahasa verbal, bahkan di dunia militer, intelejen, kepanduan, dan lainnya, ada sandi-sandi tertentu sebagai simbol makna yang hanya difahami oleh “komunitas” mereka sendiri sebagai bahasa isyarat untuk berkomunikasi agar saling memahami, sedang di luar komunitas mereka, tidak mengerti.

Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa jelas, “apa adanya”, sehingga yang lain faham apa yang dimaksud, tidak berfikir lagi, apalagi berfikir ulang. Dalam Ilmu Balaghah disebut dengan “fashahah”, fasih kata-katanya dan jelas maksudnya. Tidak konotatif, majaz, ambigu dan multi tafsir, orang yang mendengar akan salah faham bila tidak dicermati dengan baik dan benar, karena yang dimaksud “bukan yang sebenarnya,” namun justru “yang tidak sebenarnya”. 

Di masyarakat, ada kebiasaan menggunakan bahasa yang salah, namun selalu dipakai, karena sudah jama’ dipakai sehari-hari, walau salah secara linguistik. Arti yang “benar” terpinggirkan oleh arti yang “salah,” karena digunakan secara umum. Contoh paling nyata dan sering digunakan: Orang akan membeli “mesin pompa air” sering menyebut dengan kata “Sanyo”. Saat datang ke toko, dia akan berkata, “Mau beli Sanyo.” Padahal yang dimaksud bukan Sanyo sebagai merk, namun Sanyo sebagai mesin pompa air. “Sanyo” adalah “merk” produk elektronik yang tidak hanya memproduksi mesin pompa air. Produk elektronik lainnya yang bermerk Sanyo juga ada, misalnya TV, kipas angin dan lainnya. Namun orang Indonesia menyebut “mesin pompa air” dengan sebutan “Sanyo”. Mungkin karena pertama kali yang memperkenalkan mesin pompa air di Indonesia. Orang yang akan beli pun tidak marah, saat penjaga toko membawakan pompa air merk National atau Sumitzu atau lainnya, karena yang dimaksud oleh pembeli dengan mengatakan “Sanyo” adalah mesin pompa air (water pump). Pada kasus lain, di daerah Lamongan, Tuban dan Bojonegoro, orang menyebut “sepeda motor” dengan sebutan “Honda”. Bila ada anak minta dibelikan Honda kepada orang tuanya, maka yang dimasud adalah minta belikan sepeda motor, bukan minta merk Honda.

Al-kisah, ada anak sekolah baru mengenal bahasa Inggris. Kebetulan di ruang kelas tertempel katimat bahasa Inggris yang diberi terjemahan. Misalnya, “There is will, there is way.” (Bila ada kemauan, pasti ada jalan keluar). Suatu ketika anak pulang sekolah, di tengah jalan si anak yang berotak cerdas, namun baru kenal bahasa Inggris, mampir di toko untuk beli bulpoin. Saat beli ada “keset” kaki, yang di atasnya tertulis kata “wellcome”. Si anak yang lugu tersebut di tengah jalan berfikir keras, bahwa bahasa Inggris-nya “keset” adalah “wellcome”, karena yang di atas keset tulisannya itu. Di sekolah kan di setiap tempelan tulisan berbahasa Inggris, pasti ada Indonesianya. Saat sampai di rumah, si anak bilang kepada orang tuanya, 

“Ma, apa bahasa Inggrisnya “kemauan”? 

Ibunya menjawab, “Will”. 

Karena mamanya memang berpendidikan S1, sehingga sedikit-banyak, mengerti bahasa Inggris. Si anak melanjutkan pertanyaannya, 

“Kalau jalan keluar”, apa Ma? 

Ibunya menjawab, “way”. 

Tibalah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh anak tersebut,

“Apa bahasa Inggrisnya “keset”?”

Ibunya menjawab, “...”

Anak, “Salah Ma, yang benar itu, “wellcome”

Ibunya bertanya, “Kok bisa?”

Anak, “Ya Ma, tadi saya beli bulpoin di toko, ada keset bertuliskan “wellcome”. Berarti, “keset” bahasa Inggrisnya “wellcome”. Gitu Ma.”

Ibunya ketawa terbahak-bahak, setelah itu dia ngomong, “Leee..., memang di atas keset ada tulisan “wellcome”, tetapi artinya welcome itu bukan keset, tetapi “selamat datang”. Tulisan di atas keset itu, hanya sebagai lambang penghormatan kepada tamu yang datang agar sudi masuk ke dalam rumah dengan sambutan yang ramah dan baik”.

Anak, “Oooo begitu Ma?”

Mama, “Ya”.

Kejadian seperti ini persis seperti kejadian di masyarakat transmigran. Mereka banyak yang perokok linting. Mereka menyebut kertas linting dengan sebutan “paper”, karena yang tertulis besar di situ “Cigaret Paper”. Orang kampong tahunya yang “tertera”, tidak mau tahu yang “tidak tertera”.

Kita, sering melakukan pembiaran suatu kesalahan, sehingga yang salah seolah-olah benar, padahal salah. Andai sejak dini diingatkan, maka kesalahan yang turun-temurun bisa dihindari. Dari perilaku kecil, menjadi kebiasaan sehingga menjadi adat-istiadat. Adat istiadat adalah proses amaliah kecil yang dilakukan sekali, lalu diulang (‘ada, عاد) berkali-kali, sehingga menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan meningkat menjadi ethos dan etika. Karena itu, nama lain dari “adat istiadat” dalam bahasa Arab adalah “’urf” (عرف), seakar dengan kata “arif”, “arafah”, “ma’ruf”, yang memiliki arti “tahu”, “mengetahui”, “kenal”, “dikenal”, “terkenal”. Sesuatu disebut “’urf”, adat istiadat, memang karena “dikenal”, lau dilakukan terus menerus sehingga menjadi “terkenal”, sebab sudah “biasa” dilakukan. Problemnya, bila kebiasaan yang salah sudah menjadi adat-istiadat dan diikuti oleh banyak orang, dalam jumlah yang besar, maka cara merubahnya, juga perlu waktu yang lama dan kesabaran yang berlipat-lipat, karena proses tumbuhnya lama, maka proses merubahnya juga lama. 

Ada suku tertentu di Indonesia, sangat agamis, senang berpakaian putih dan gemar pula memakai surban, bahkan bila pergi ke mana-mana, senang menenteng “tasbih”. Namun ada kebiasaan yang berlawanan dengan ajaran Islam, yaitu makan atau minum menggunakan tangan kiri. Padahal dalam Islam, makan dan minum menggunakan tangan kiri, dilarang. Karena sudah terbiasa menggunakan tangan kiri, dalam transaksi keseharian pun, juga menggunakan tangan kiri. Misalnya memberi sesuatu kepada orang lain, menerima sesuatu, men-“julung” duit kepada orang, atau pun sebaliknya, juga menggunakan tangan kiri. Kebiasaan yang bertentangan dengan agama tersebut, dianggap biasa, karena sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi adat istiadat. Padahal di Jawa, menggunakan tangan kiri, merupakan perbuatan “olo”, “elek”, (buruk). Begitu juga menurut syariat Islam, makan-minum dengan tangan kiri, dilarang.

Oleh sebab itu, pelurusan atas kekeliruan penggunaan kata agar tidak “salah jalan” sehingga sesat terus menerus, perlu dilakukan. Pembenahan atas suatu yang keliru merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan untuk menemukan jalan terbaik bagi peradaban yang berlandaskan moral religi. Sebagaimana dikenal dalam konsep Agama, ada jalan “taubat” atas “dosa” masa lalu, agar menemukan hidup baru yang lebih baik, maka kesadaran atas kesalahan masa lalu merupakan jalan terbaik bagi kehidupan setelahnya. Kesalahan linguistik karena ketidak sengajaan, lebih ringan derajat kekeliruannya, dibandingkan dengan kesalahan yang disengaja, padahal tahu. Perhatikan contoh ungkapan berikut, sering diucapkan, namun keliru secara semantik.

“Simak baik anak-anak!!”

Guru sering menyuruh anak didiknya dengan ungkapan, “Simak baik anak-anak!!” Di depan, anak didiknya membuka buku teks sambil “memelototi” buku yang ada di atas bangku tulis, karena guru memerintah “menyimak”. Apalagi, Guru melanjutkan perintahnya, “Buat lembar kerja anak-anak, nanti dikumpul di meja saya!” Tentu yang dimaksud peritah guru tersebut adalah “perhatikan dan baca” baik-baik! Padahal penggunaan kata “simak” tersebut salah kaprah. Jika antara guru dan siswa mengetahui makna yang benar dari kata “simak”, maka siswa harus “mendengarkan” baik-baik pembicaraan gurunya, agar dapat “disimak” suaranya. Itu yang benar. Namun realitasnya, antara guru dan anak didik sama-sama tidak tahu makna asalnya, sehingga sama-sama salahnya. Guru membiarkan anak “membaca”, “melihat”, dan “memperhatikan” bacaan di buku; guru juga membiarkan hal tersebut, karena yang dikehendaki guru memang “memperhatikan”. Kedua-duanya sama-sama salah, namun kedua-duanya faham maksud dari apa yang diperintahkan, dan mengerjakan perintah tersebut hingga selesai. Padahal salah. Seharusnya, bila ada perintah “simak”, maka harus ada audio atau orang yang berbicara yang diperdengarkan atau disampaikan secara verbal, sedang siswanya “mendengarkan” dengan baik dan penuh hikmah.

Semantik sima[k]’

“Simak” diadobsi dari kata Arab: Sami’a, yasma’u, sima’atan (سمع-يسمع-سماعة), artinya: “mendengar”. Allah mempunyai sifat “Sami’” (سميع), artinya: “Maha Mendengar”, bentuk “mubalangah” (superlatif) dari kata “sami’a”. 

Jadi, kata “simak” berasal dari kosa kata Arab “sima’” yang artinya “mendengar”. Dengan demikian, jika ada orang yang menyuruh orang lain untuk menyimak, maka artinya disuruh untuk mendengarkan, bukan memperhatikan.

Bila ada ungkapan, “Perhatikan tuh, ada perempuan cantik lewat!”, maka kata “perhatikan”, alat indra yang digunakan adalah “mata”, bukan “telinga”. Karena “memperhatikan” maknanya adalah “melihat” perempuan cantik, bukan “mendengarkan”.

Saur manuk

Dalam tradisi Jawa, ada sindiran kepada orang yang berbicara dengan temannya, dan hal tersebut tidak dilakukan sendirian saja, namun yang lain juga melakukannya, padahal saat itu orang lain sedang bicara, maka sikap tersebut dinamakan “saur manuk”. Mengapa? Karena berbicara saat orang lain berbicara, bagaikan burung berkicau, bersahut-sahutan saling berlomba bagus-bagusan suaranya, namun tidak ada yang memperhatikan dan mendengarkan. Sehingga suara burung yang terbaik, tidak ada yang diketahui, karena hanya terdengar suara bising dan tidak karu-karuan.

Dalam rapat, musyawarah, diskusi, atau semacamnya, jika ada orang yang mengajukan usul atau berbicara, sering yang lain ikut ramai bicara. Namun, jika disuruh berbicara sendirian ke depan umum untuk mewakili yang lain, maka tidak ada yang berani. Lucunya di sini, kalau ramai-ramai, berkerumun, banyak orang yang berbicara, tetapi bila sendirian tidak berani bicara. Budaya kerumunan ternyata masih sangat kuat.

Di sini perlunya ada kesadaran moral untuk mau mendengarkan orang lain berbicara. Begitu juga sebaliknya, orang yang pandai berbicara, juga mau mendengarkan yang lain saat berbicara.

Simak dalam al-Qur’an

“Sima’” (سماع) merupakan “isim mashdar” dari kata dasar sami’a, yasma’u, sima’atan (سمع – يسمع - سماعة); artinya: “mendengar”, “menyimak”. 

Dalam al Qur’an, kata “sami’a” dan derivasinya (kata turunannya) banyak di dalam al-Qur’an. Misalnya dalam QS. Al-Isra’ [17]: 36.

ولا تقف ما ليس لك به علم ان السمع و البصر و الفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا

(Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya. [Karena nanti] benar-benar akan ditanyakan tentang pendengatan, penglihatan, dan [perasaan] hati. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya).


 Di dalam al-Qur’an, kata “al-sam’u” lebih didahulukan daripada “al-bashar” (penglihatan)? Karena proses pengetahuan paling dasar, dimulai dari pendengaran, bukan penglihatan. Bayi yang baru lahir, akan menangis jika pendengarannya berfungsi normal. Namun tidak akan menangis bila pendengarannya ada gangguan. Jadi, bayi memperoleh pengetahuan lewat pendengaran lebih dahulu dibandingkan dengan penglihatan. Oleh sebab itu, orang yang tuli meskipun bisa melihat, sulit untuk memeroleh pengetahuan, sedang orang yang buta, namun tidak tuli, maka akan mudah mendapatkan ilmu pengetahuan. Banyak orang buta sejak lahir, namun menjadi hafizh (penghafal) al-Qur’an, bahkan ada yang mendapatkan gelar dobel Ph. D (Philosophy of Doctor) seperti Thaha Husain, Mesir. Bahkan pernah menjabat sebagai menteri pendidikan. Steve Wonder juga buta, namun mampu memainkan alat musik dengan spektakuler dan menyanyi sekalaigus.

Ulul Albab: Penyimak terbaik

Tamsil bagus dijabarkan Allah di dalam al-Qur’an, wahyu al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad, oleh Allah disuruh untuk disimak baik-baik terlebih dahulu, bila sudah selesai, baru Nabi disuruh untuk mengulangi bacaan yang diucapkan Jibril. Nabi melakukan hal tersebut karena sadar akan sifat “basyariyah”-nya sebagai manusia, yang memerlukan proses “sam’iyyah” dalam menerima informasi, termasuk “wahyu” dari Allah. Mengapa diperintah seperti itu? Agar tidak terjadi kesalahan, karena salah dengar. Meskipun ini mustahil, karena wahyu al-Qur’an dijamin otentisitasnya oleh Allah (QS. Al-Hijr [15]: 9) juga karena jaminan langsung dari Allah, Nabi Muhammad langsung hafal apa yang sudah diwahyukan kepadanya. Kata Allah dalam QS al-Qiyamah[75]: 16-19:

لا تحرك به لسانك لتعجل به
ان علينا جمعه وقرءانه
فاذا قرأناه فاتبع قرأنه
ثم ان علينا بيانه

(Janganlah kamu menggerakkan lidahmu agar cepat [menghafal]nya
Sungguh, Kami yang mengumpulkannya dan membacakannya
Maka bila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya
Kemudian sungguh, Kami yang akan menjelaskannya)

Itulah tingkat daya “intelek” para nabi dan rasul yang sudah “mukasysyafah”, semuanya sudah “terbuka” dan jelas (tajalli), di mana tidak ada “jarak” antara dia dengan Tuhan, sehingga akan “ma’rifah” terhadap “ilmu” Allah, di sini termasuk wahyu yang diturunkan Allah. Apa yang diwahyukan otomatis tertancap di hati dan fikirannya, karena sudah tidak ada “hijab” (dinding penghalang) antara dirinya dengan Khaliqnya.

Jangankan para nabi dan rasul, orang muttaqin pun, dijamin oleh Allah akan diajarkan ilmu pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya dengan mudah. Kata Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 282:

واتقوا الله ويعلمكم الله

(Bertakwalah kepada Allah! 
Niscaya Allah akan mengajarkan pengetahuan kepadamu)

Itulah etika pewahyuan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, di mana Nabi harus mendengarkan penuh hikmad, tidak disertai dengan nafsu ingin cepat-cepat hafal dan memahami, karena hal tersebut sudah menjadi jaminan konsekwensial dari pengangkatannya sebagai manusia istimewa, mulia, dan dekat dengan  Allah, yaitu mudah menghafal wahyu yang diterimanya. Kemudahan tersebut tidak diperoleh setiap orang. Hanya manusia pilihan yang mencapai maqam tersebut, karena keistimewaan dirinya. Oleh sebab itu, kenabian dan kerasulan bukan sesuatu yang ikhtiyari, iktisabi (dapat diusahakan dengan kasb), namun anugerah Allah (fadllullah) (QS. 2: 90).

Dalam khutbah Jum’at pun, yang dihadiri banyak jama’ah, saat khatib menyampaikan khutbahnya, “wajib” didengarkan. Dalam hadits disebutkan, “Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diam, jangan bicara!”, padahal imam sedang khutbah, maka [pembicaraan yang diniatkan agar yang lain diam], membuat jum’atan-mu sia-sia.”

Dr. Martin van Brunissen, dosen tamu asal Belanda di Pasca Sarjana di IAIN (UIN) Jogjakarta, dalam suatu seminar yang bertempat di Aula IAIN Jogja, sabar sekali dalam menyimak pertanyaan peserta seminar. Tidak memotong juga tidak menyela setiap pembicaraan orang lain. Dia sangat menghargai orang lain untuk berbicara, sebagaimana dia diberi kesempatan oleh yang lain untuk berbicara. Jadi, berbicara dan menyimak, sama-sama pentingnya. Orang yang hanya mau berbicara untuk menyampaikan ide kepada yang lain, namun enggan untuk mendengarkan yang lain berbicara, akan terjerumus pada egoisme, sehingga tidak tahu kelemahan, kekuatan, kekurangan dan kelebihan pendapatnya sendiri. Orang yang egoisme terhadap pendapatnya sendiri akan terjebak dalam kesesatan tanpa mengetahui kesalahannya sendiri. Juga sebaliknya, orang yang terlalu terbuka, sehingga menerima semua apa yang “didengar”, tanpa dibarengi dengan sikap selektif, akan terombang-ambing dalam kesesatan. Benar apa yang dikatakan al-Qur’an, para Ulul Albab merupakan presentasi manusia yang pandai mendengar, selektif, pandai memilah dan memilih “qaul” yang paling baik, dan mengikuti “qaul” yang paling “ahsan”. Allah berfirman dalam QS: 17-18:

... فبشرعباد الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه اولئك الذين هدىهم الله و اولئك هم اولوا الباب

(Berikan kambar gembira kepada para hamba-Ku, yaitu orang-orang yang mau mendengarkan suatu pendapat, lalu mengikuti pendapat yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah Allah. Dan mereka adalah kelompok Ulul Albab)

Kesediaan menyimak dan mampu menjadi penyimak terbaik, oleh Allah disematkan kepada kelomok Ulul Albab, yaitu kelompok pemikir tercerahkan menurut Ali Syariati, atau cendekiawan muslim plus menurut Kang Jalal. Ulul Albab bukan sembarang kelompok, di dalam diri mereka terkumpul kecendekiawanan dan sikap rahbaniyah sekaligus. Mereka intelektual yang aktifis sekaligus, tidak duduk manis di menara gading, di istana raja, namun mereka adalah penggerak sejarah dan peradaban. Di samping itu, mereka adalah para agamawan yang selalu taqarrub dengan Allah. Mereka tidak cukup hanya dengan akal pemikirannya, namun mereka melengkapi diri dengan dzikir kepada Ilahinya. Itulah sikap Ulul Albab, mau menyimak pendapat yang lain yang sama atau pun yang berbeda.

Kesediaan untuk mendengarkan pendapat yang lain, menurut Dr. Nurcholish Madjid, merupakan bagian dari sikap terbuka dan percaya diri yang tinggi, karena dengan kesediaan mendengarkan pendapat yang lain, cerminan bahwa di dalam diri seseorang sudah memiliki ilmu pengetahuan dan sikap yang dipegang, tidak terombang-ambing sikapnya, karena tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Sikap tertutup (eksklusif) menurut Cak Nur, merupakan cerminan budaya inferior, karena merasa kalah dan lebih rendah daripada yang lain, sehingga menutup diri untuk “dialog”, saling berbagi kepada yang lain. Ada kekhawatiran di dalam dirinya, bahwa dirinya akan terpinggirkan dengan sesuatu yang lain atau sesuatu yang baru. Sehingga sekuat tenaga mempertahankan sesuatu yang lama dari apa yang telah “dipercayai”. Sikap defensif menurut Cak Nur, bagian dari peradaban yang kalah, karena menolak adanya reformasi pada dirinya untuk menyesuaikan dengan kemajuan peradaban dan perubahan yang baru. Namun sikap terbuka tanpa prinsip juga berbahaya, yang bahayanya sama dengan bahaya eksklusifisme, karena tidak punya pendirian dan mudah diombang-ambingkan. Sikap terbuka tanpa prinsip, tanpa pendirian, bagai buih di tengah lautan yang selalu terombang-ambing saat diterpa angin. Keterbukaan tanpa reserve, akan jatuh pada kehancuran, karena akan kehilangan identitas dan jati dirinya. Yang terbaik adalah seperti yang dinyatakan oleh al-Qur’an, yaitu mau menyimak yang lain dalam kerangka menimbang, memilah dan memilih sesuatu yang terbaik untuk dijadikan pegangan (al-huda) hidup. Weltanchaung seperti itulah yang dikehendaki al-Qur’an, yaitu prinsip uluhiyah yang kuat dibarengi dengan sikap ilmiyah yang rasional untuk menciptakan suatu peradaban yang terbaik. Perbaiki yang lama yang sudah lapuk, sambil menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik (المحافظة على القديم الصالح والايجاد بالجديد الاصلح)

Ternyata, menyimak dengan baik, bagian dari proses upgrade peradaban ke tingkat yang lebih tinggi, karena akan ditemukan ilmu pengetahuan baru yang lebih baik dan banyak maslahahnya. Ketidak sediaan untuk mendengarkan sesuatu yang baru, hanya akan membuat aus dan ketinggalan zaman. _Wallahu a’lam bi al shawab.(sudono syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments