About Me


Setiap Yang Beranak Pasti Bisa Mati


Dikisahkan kembali oleh Sudono Syueb

(Dosen Fikom- Unitomo, Surabaya)


Harianindonesiapost.com Pada suatu sore, Abu Nawas duduk di beranda rumahnya sambil memandang langit dan elus elus perutnya yang sejak kemarin belum makan. Abu Nawas berpikir bagaimana caranya agar sore itu dia dan keluarganya bisa dapat makanan.

Sementara itu, dalam jarak puluhan meter dari rumah Abu Nawas, ada seorang tuan tanah tinggal. Rumahnya mewah, lengkap dengan gudang makanan dan peternakan serta perkebunan yang luas. Hamppir semua warga di kampung itu, bahkan termasuk Abu Nawas, bekerja kepada tuan tanah tersebut.

Namun, tuan tanah itu memiliki sifat yang kikir dan tamak serta jadi rentenir. Apa pun yang dipinjam oleh warganya harus beranak pinak. Pinjam telur 10 kembali 15 dengan anaknya 5. Pinjam 2 kambing kembali jadi empat tambah 2 anaknya. Pinjam uang 10 juta kembali 15 juta dengan anakannya 5 juta. Begitu juga pinjam benda benda mati yang lain. Dari sini ide cerdas Abu Nawas muncul untuk memberi pelajaran pada tuan tanah itu. Abu Nawas bilang sama tetangga dan teman temannya bahwa dia punya keahlian bisa bikin telur beranak, ayam beranak, beras beranak, motor beranak dll.
   
Tuan tanah itu mendengar berita bahwa Abu Nawas memiliki keahlian yang unik.
Apabila meminjam sesuatu akan dikembalikan secara lebih dengan alasan beranak. Seperti meminjam seekor ayam, maka akan dikembalikan dua karena ayam itu beranak. Tuan tanah lalu mencari cara agar Abu Nawas segera meminjam uang darinya.

Kebetulan pada sore itu Abu Nawas ingin meminjam berupa tiga butir telur. Kontan saja tuan tanah senang bukan kepalang karena pinjaman itu akan menjadi banyak nantinya. Bahkan tuan tanah tersebut menawarkan pinjaman-pinjaman yang lain. Akan tetapi Abu Nawas menolaknya karena dia hanya butuh tiga butir telur itu saja. 

Saat tuan tanah menanyakan kapan telur itu akan beranak, Abunawas menjawab itu tergantung dengan keadaan.

Setelah lima hari berlalu, Abu Nawas pun mengembalikan telur yang dipinjamnya dengan lima butir telur. Tuan tanah sangat senang. Lalu  dia menawarkan pinjaman lagi. Abu Nawas pun meminjam dua sepeda pancal  dan tuan tanah itu dengan senang hati meminjamkannya dengan harapan sepeda pancal ya beranak dua  kayak telur ayam yang dulu.

Lima hari pun berlalu lagi dan Abu Nawas mengembalikan sepeda sebanyak tiga buah. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hati si Tuan tanah cukup gembira. Tak apalah pikir tuan tanah karena bisa saja orang itu mempunyai anak tunggal bahkan tidak memiliki anak.

Mati Mendadak

Pada hari hari berikutnya  tuan tanah itu meminjami uang senilai 5000 dinar kepada Abu Nawas ( 1 Dinar kuenya 2,5 juta rupiah). Sebuah jumlah yang cukup besar, bahkan bisa untuk menggaji seluruh karyawan tuan tanah selama satu tahun. Dia menanti dengan tidak sabar. Hari berganti hari bahkan lima hari terlewati sudah. Tak terasa sudah berjalan satu bulan dan Abu Nawas tak kunjung datang ke rumahnya.

Karena tidak sabar, si tuan tanah mendatangi Abunawas dengan didampingi pengawalnya. Mulanya si tuan tanah gembira, namun dia marah besar setelah menerima penjelasan dari Abu Nawas.
"Sayang sekali Tuan, uang yang saya pinjam, bukannya beranak, malah tiga hari setelah saya bawa pulang, mati mendadak," ujar Abu Nawas.

Mendengar itu, si tuan tanah menjadi geram.
Pengawalnya hampir saja memukul Abu Nawas, tapi untung saja tidak jadi karena ada rombongan pekerja yang baru pulang. Tuan tanah mengadukan Abu Nawas ke pengadilan dan berharap Abunawas digantung atau bahkan dihukum rajam.

Di depan hakim, Abu Nawas melakukan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Pengadilan pun memutuskan bahwa Abu Nawas tidak bersalah karena sangat masuk akal kalau sesuatu yang bisa beranak pasti bisa mati. Seketika itu juga tuan tanah yang tamak itu pingsan selama beberapa jam sulit untuk dibangunkan. Ia telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak dan pelit serta suka beternak uang (misbah/ed)

Post a Comment

0 Comments