About Me


Referensi Otentik Sistem Pesantren Warisan Yai Salim


Oleh Sudono Syueb dan Bukhori At Tunisi

( Keduanya alumni ponpes YTP, Kertosono)

Harianindonesiapost.com Seperti biasanya, setiap dini hari, antara jam 02.00 SD 03.00, Pak Yai Akhyar selalu membangunkan anggota GWA alumni Ar Raudlatul Ilmiyah, YTP, Kertosono, untuk sholat tahajud, seperti berikut ini

 السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته 
عليكم بقيام آلليل فإنه دأب الصالحين قبلكم وقربة إلى الله تعالى و منهاة عن الإثم و تكفير للسيئات و مطردة للداء عن الجسد (رواه احمد) 

'Mohon maaf sebelumnya bila mengganggu istirahat Bapak / Ibu / Sdr."

"Monggo Sholat Tahajjud!"

Biasanya yang menjawab pertama adalah ustadz Amrozi, tapi pada Rabu  10/4 jam 02.54 itu yang merespon pertama Gus Ali, yang ada nun jauh di kabupaten Sidrap, Sulsel, sana, tempat beliau menjalankan tugasnya sebagai ketua PA (Pengadilan Agama), Sidrap,

والسلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
 "Siap."

Menyusul kemudian ustadz Muttaqin memberi acungan jempol 👍🏿👍🏿 tanda OK atau setuju, bukan tanda untuk pilih Capres no 01 hehehe.... pada jam 04.05

Lalu pada saat thulu' (terbit matahari) sekitar 05.30, Ustadz Bukhori ikut nimbrung, "Yo ngunu Gus Ali, qiyam fillail." 😄
   Tak lama kemudian saya nimpali,  "Qiyam finnahar juga boleh" 😃😃😃

   Sejurus kemudian, sambil mengetik naskah yang akan diterbitkan, Ustadz Bukhori nambahi,  "Lailan wa naharan" 😄😄

Lalu pada jam 06.14 Gus Ali klarifikasi, "Iku ustad Ahyar cak Bukh."

   Berikutnya Gus Ali, sambil buka buka kitab fiqih Munakahat nambahi, "Qiyam Nahar termasuk makani Sapi . Makani wedus... makani pitek."


   Tak lama kemudian saya nambahi guyonannya Gus Ali,  Ngayum jaring ugo Gus 🤣🤣🤣

"Jaring laba laba-laba", saut ustadz Bukhori sambil nyeruput kopi khas Kalsel rasa jahe.

   Sambil batuk batuk saya nimpali guyonannya Ust. Bukhori, "Awas ada jebakan Batman Syeh" 🤣🤣🤣

   Diam-diam Ust. Warok Yono ikut nimbrung, "My understand" 😀

   Membaca respon saya dan ust. Bukhori tentang Ngayum jaring, maka Gus Ali nambahi, "Iyo cocok.. iku yo penting" ( Ngayum jaring maksudnya)

Seperti biasa Ust. Bukhori ini suka guyon seperti Gus Ali, lalu dia nambahi, "Jaring pemilih seng bening-bening" 😄🤭 (sing qurrata a'yun).

   Guyonan ini menarik perhatian Gus Amam lalu beliau ikut nimbrung, "Cocok..."😀

    "Jaring ikan itu ya untuk nyaring ikan bukan untuk yang bening bening Ust. Bukhori, Itu namanya Pelanggaran. Kena Delik Payang Cantrang", kata Gus Ali.

   Gak mau kalah dengan sanggahan Gus Ali, ust. Bukhori jawab,  "Bu Susi sek kampanye, lali."
   
Gus Ali lalu menimpali dengan santai, "Ono onok ae iki."

Dari perbincangan jaring ikan, jaring cantrang dan jaring laba-laba beralih ke kitab Arab Pegon judulnya "Alaa Laa" postingan dari ust. Bukhori seperti foto di atas.
Lalu ust. Muhammad Ain merespon kitab tersebut, " Alaa lan tanaalal ilma illa bisittatin
Rapalan wajib bagi para santri di beberapa pesantren..
Tapi di YTP ndak diamalkan ini..." 😁
   

Pernyataan Ust. Ain tersebut lalu diluruskan oleh Tadz. HanifnAzhar, "Siiplah berikut ini,  Rapalan itu pernah ane peroleh dari beliau (alm) KH. Musta'in, KH. Ali Mansur dan KH Ja'far Yasa. Ini yg ane amalkan ke santri TPQ sampai sekarang."

Ustadz Bukhori ikut nambahi,  "Saiki dirapalno Gus Ain, ben sakti mondroguno."

Gus Min lalu nambahi imoji

🙈🙈 🙈

Lalu Ustadz Bukhori nambahi,
'Matoooh Tuan Guru Hanif (TGH)."😄👍👍👍

Berikutnya Gus Min nambahi,  "Terae Gus Hanip sakti awet nang pondok."

"Kuat ilmune kuat mangane." Sambung Ustadz Bukhori

Berkaitan dengan pelajaran pake nadlom itu saya ikut nimbrung,  'Dulu ketika saya sekolah di MIM Dengok, hampir semua gurunya dari alumni YTP, era Yai Salim, semua pelajaran agama pake kitab Arab, ada beberapa pelajaran yang pake nadlom  seperti Tajwid dll.
 Artinya, pd zaman Ya Salim, pelajaran yg pake nadlom2 itu sudah ada..."

Gus Min nambahi, "Yai Ali Manshur juga ngajar nadhom Iksir.'

ustadz Bukhori nambahi, "Oooo, pantesan doeloe, inyong diajari ...contoh:
واذغم بغنة بينمو لئذا ... 

Gus Barok lalu nambahi, "Wong simbatan kanor podo pinter2 nadhom Syaikh."

"Yai Barok kari nuntun pae 😄", saut Ust. Bukhori


Gus Min nambahi, "Iso pae reang."

Lalu saya nyambung,  "Dari Yai Salim, nurun ke Yai Taun dan Yai Manshur.
Pertanyaannya, apakah sekarang masih ada?"

Pertanyaan saya dijawab Gus Min, "Lah itu  .... Tugase Gus Nadjib."

Lalu saya bertanya lagi,  "Kabarnya pelajaran Pondok YTP mulai berkurang, karena ngikuti kurikulum Dikbud dan Depag..."

 " Sekalipun saya termasuk santri yang tergolong kurang bisa dibanding dengan yang lainnya, tapi sangat bisa merasakan keunggulan YTP masa itu, dengan Kurikulum Diniyah yang dibutuhkan oleh penjaga syari'ah di negeri ini."

 Testimoni Gus Min.
"Yai Salim doeloe juga ada Sains n Sos, yang berbahasa Arab. Bila tidak seperti doeloe, komposisi kurikulum antara Kitab Kuning dan pelajaran Umum, itu bisa 75:25 atau 80: 20", sambung Ust. Bukhori
Lalu ust. Bukhori nyambung lagi, "Pari nek wes isi, biasane nunduk, ra dongak." 😄

Gus Barok menimpali,  😀😀😀😀 "Dikandani kok malah ngajak trans."

   Saya lalu nyambung,  "Memang seperti buah simalakama, bertahan kurikulum pondok plus Dikbud, animo berkurang, ngikuti Dikbud kurikulum pondok berkurang..."

   Gus Min menyarankan,  "Perlu ada forum yai, untuk konsep YTP terbaik."

   Saya jawab,  Setuju Gus..."


Gus Ain kasi info, "Ada salah seorang musyrif YTP yang pernah menyampaikan perlunya standarisasi muatan kurikulum khas YTP dan standarisasi pola pengajaran.. Sehingga siapapun yg menjadi ustadz/musyrif/pembina di YTP kualitas keilmuan dan pola pengajarannya bisa standar. Hal ini penting untuk menjaga dan merawat warisan asli YTP dari Yai Salim hingga poro yai selanjutnya. Ini yg pernah disampaikan saat ngobrol santai di sela2 besuk anak di YTP." 😁

 Saya nimbrung lagi, "Itu berarti harus mengetrapkan kurikulum yang pernah dibuat Yai Salim yang diteruskan Yai Tain dan Yai Manshur..."

Lalu Gus Najib, Yai YTP ikut nimbrung,  "Problem pesantren yang mengikuti kurikulum pemerintah, kecuali pesantren yang membuka program muallimin/mu'allimat, seperti Pesantren Tambak Beras, dan masih salafiyah, seperti Lirboyo,
Tebuireng pun demikian. Pernah ngobrol dengan pemilik toko kitab kuning langganan di Cukir yang mengeluhkan penurunan kompetensi santri dalam membaca dan memahami turast."

   Saya kemudian menyambung,  "Maka itu, ustadz n ustadzah baru YTP, yang ngajar agama, harus dites kemampuannya dalam menguasai warisan YTP...."

  Gus Ain menambahi infonya,  "Beliau berharap para senior di HAPPRI bisa menjadi pelopor dalam hal ini... 
Kurikulum nasional boleh berubah menyesuaikan perkembangan zaman.. 
Namun kurikulum khas warisan YTP harus tetap terjaga dengan standar yang terukur... '

Gus Min nambahi, "Ini BIJAKSANA kelas super deal."

    Ssya lalu bertanya, "Siapa namanya?"

   Gus Min jawab, "Japri yai Dono."

 Saya lalu beri testimoni,  "Sebetulnya santri-santrinya Yai Manshur sekarang juga hebat-hebat, sering juara berbagai lomba tingkat kabupaten n provinsi...."

   Gus Ain menjawab pertanyaan saya,  "Ust. Firdaus, menantunya Ust. Abu Ma'shum (alm).
Beliau alumni Gontor dan merasa masih belum faham betul dengan warisan khas YTP.. 
Beliau merasa selama ini mengajar masih lebih banyak pakai gaya gontor katanya."

 Gus Ain nambahi,  "Lho... Para senior hebat ini bisa menyempatkan waktu untuk bersama meramu warisan leluhur YTP dan dikemas dengan apik sebagai acuan standar kualitas di YTP.  Baik kualitas pengajarnya, pembelajarannya, maupun output santrinya.' 

  Saya kemudian mengusulkan agar Alumni Gontor itu sebaiknya ngajar bahasa Arab n Inggris saja. Karena kalau ngajar kitab, metodenya beda dg YTP..."

 Gus Barok nambahi, "Kalo Syaikh Bukhori Bidayatul Mujtahid cocok Yai, Ilmu Falaq pak Hakim Ali, boso jowo Yai San pas dengan jimat kalimusodo."😀🙏

Saya ketawa dengan usulan Gus Min, tanda setuju 🤣🤣🤣

Gus Ali yang dipasang Gus Min juga ketawa, "Hehe..., Cocok to Pak Hakim, jadi proporsional sebab menempatkan ahlinya pada tempatnya, in syaa Alloh", sambung Gus Barok.

   Tadz Bukhori nambahi, "Yai Barok Fiqhul Mustadl'afin" 😄

Gus Barok  lalu 😀😀😀
  "Penonton syaikh", lanjut Gus Barok.

   Saya kemudian mencoba beri deskripsi, 'Metode pengajaran antara Gontor dan YTP, Gontor gunakan metode deduktif, sedang YTP induktif...."

   GUS Ali nyambung,  "Bisa dijelaskan dg contoh pak Yai Dono!"

   Saya  contohkan, "Jika Gontor baca kitab diterjemahkan secara global dulu baru fokus pada kalimat kalimat tertentu.
YTP sebaliknya, diterjemahkan per kata dulu, baru memahami secara global. Keduanya ada plus minusnya..."

   Gus Min nambahi, "Gontor bertahan sampai hari ini dengan kekhasannya."

   Gus Ali menjawab, "Makasih Yai."

   Saya nambahi "Ekspektasi Gus Min,  Harusnya YTP juga bisa bertahan dengan kekhasannya pula Gus..."

"YTP milik kita, bisa dirembuk," tambah Tadz. Bukhori

 Sudono Syueb menambahkan, "Milik Yai Salim Syaikh,"

Sudono Syueb menyela, "Rembukannya gampang, kembali ke sistem pendidikan pesantren yang dibuat Yai Salim n diterusin Yai Tain n Yai Manshur..."
Hakim Ali, tiba-tiba mau menarik ke perbincangan lain, "Mohon pencerahan poro senior... arti Nisfu Sa'ban secara bahasa itu apa... dan secara istilah..."

Tetapi Sudono Syueb mengembalikan ke alur semula: "Guru-guru agamanya mayoritas alumni YTP. Iki sing iso jawab yai Akhyar Gus .
Ada yang menimpali,
Ok .. nunggu Yai Akhyar"
Ada yang guyoni Gus Ali, 
'Gus Ali nek 'hisab' ukurane GN pasti mantepbb
😄😄😄

Andai semua sepakat kembali ke sistem yg dibuat yai Salim, terus seperti apa sistem itu..?? 
Adakah referensi autentiknya yg bisa dijadikan acuan..??"

Ada yang menjawab,
"Ini yang perlu dicari."  Atau perlu dirumuskan oleh para senior."
Bukhori At-Tunisi menjawab, 
"Santri Yai Salim masih ada, bisa ditemui."
Yai Sudono Syueb yang pernah saya ajak keliling mencari dokumen primer menambahkan, "Referensi autentiknya sekarang ada. Di pak Yai Ali Manshur n yai-yai lain yang ngajar di YTP..."

Lama tidak ada respon dari guru-guru YTP atau pun dari Yayasan, Ust. Barok menyindir,
"Sepakat itu mudah, ini kan baru suara dari alumni, sementara dari pihak pengelola belum ada pandangan."

Bukhori sambil guyon, menjawab kegelisahan Ust. Barok, "Yang bisa nerawang: Pujangga."

Yai Sudono Syueb menguatkan: Bila perlu Yai Khusnul Aqib, Yai Tar Dengok, Syekh Bu dll. dihadirkan sebagai referensi tambahan...."

Ust. Sudono Syueb, alumni UGM ini menambahkan, "Maka itu tadi saya usulkan juga, yang ngajar agama harus alumni YTP sendiri N yg sdh S1 atau S2."

"Pak warok juga udah mumpuni..heehee,"
Tambah Cak Bustam.

Yai Barok, dengan merendah hati bilang,
 "Kulo nderek nglamar cleaning service Yai."

Bukhori menambahkan,
"Ilmu pari 😄😄🤭🤭"

 Sudono Syueb memberikan keyakinan pada yuniornya: "Referensi otentik lainnya adalah kitab-kitab yang dipakai pegangan  Yai Salim, Yai Tain n Yai Shur..."

"Dan itu, masih bisa ditelusuri otentisitasnya," kata Bukhori

Ust. Sudono Syueb: Sangat bisa..."

Menanggapi usul adanya mendiskursus revitalisasi Kurikulum ala Yai Salim, dengan melibatkan alumni, Bukhori karena dicatut namanya oleh Yai Dono menjawab,  "Kulo cuma ngangsu 3 tahun Yai, dereng pantes."

Untuk meyakinkan ampuhnya dasar-dasar kurikulum dan buku-buku referensi yang digunakan Yai Salim, Sudono Syueb menambahkan, "Yai Salim tidak sembarangan pilih kitab-kitab pengajaran untuk YTP."

Bukhori membenarkan pernyataan Yai Dono, dengan mengatakan, "Shahih n sharih 👆👆"


4 buku tersebut ditulis oleh para alumni YTP, Bukhori, lhsanudin dan Sudono, dengan menggunakan Metodologi Yai Salim dan dieksplor dengan bingkai modernitas sebagai upaya untuk  mencoba membuat jejak jejak pikiran Yai Salim, Yai Tain dan Yai Manshur...

Post a Comment

0 Comments