About Me


Membebaskan Kata Kata Dari Penjajahan Pengertian.


Oleh: Sudono Syueb

( Pengajar di Fikom-Unitomo, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Adalah Stardji Calzum Bachri, sang "Kredo Puisi" berpendapat, kata-kata bukan sekadar sarana untuk menyampaikan pengertian karena menurutnya, kata-kata itu sendiri adalah pengertian. Dia berpikir bahwa kata-kata itu harus terbebas dari penjajahan pengertian dan dari beban ide, serta penjajahan gramatika dan tabu bahasa.
   Pendapat Sutarji, sang "Presiden Penyair" itu dikatakan sekitar tahun 70an, baru sekarang mulai ada guna dan manfaatnya. Maka itu banyak orang atau lembaga menyatakan kata kata yang dimaksud bukan begitu. Ini artinya mereka  membebaskan kata kata dari penjajahan pengertian. Misalnya ada yang mengatakan "Perang Total". Setelah dapat banyak kertik, lalu ada pelurusan makna. Yang dimaksud bukan perang militer, perang antar suku, perang saling membunuh. Tapi yang dimaksud adalah persiapan total untuk Pilpres agar menang. 
   Begitu juga istilah "People Power". Setelah dilontarkan dan  direspon negatif oleh masyarakat dan para pejabat, lalu ada penjelasan maknanya, bahwa yang dimaksud people power itu bukan menggerakkan rakyat untuk melakukan evaluasi total pimpinan nasional, tapi yang dimaksud people power adalah mengawal suara Paslon Capres tertentu secara allout.
   Demikian juga istilah "Curang", artinya tidak lagi penipuan, tidak jujur dll. Tapi yang dimaksud adalah "Salah Hitung". Karena salah hitung ya cukup direvisi saja, tanpa berimplikasi hukum.
   Oleh itu, Sutarji menegaskan, kata-kata itu harus bebas menentukan dirinya. Dengan demikian, menurut Sutardji, penyair harus memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada kata-kata agar kata-kata dapat mewujudkan diri sendiri dan menciptakan dunia pengertiannya sendiri. Kata-kata dalam sajak-sajak Sutardji dapat ditulis sungsang, dipotong, atau dibalik susunannya. Menurut Sutardji, menulis puisi itu ialah membebaskan kata-kata dan itu berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata dan kata pertama adalah mantra. Dengan demikian, menulis puisi baginya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
   Nah pada pendapatnya bahwa kata kata pertama adalah "mantra" ini banyak mengundang petdebatan. Apa hiya? Kalau hiya, berarti membantah pernyataan Tuhan Allah, bahwa kata kata pertama adalah Asma'/Nama nama seperti yang diajarkan Tuhan pada Nabi Adam. (Lihat QS Al Baqarah ayat 31)
Artinya, "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para Malaikat, lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama nama itu jika kamu memang benar benar dipihak yang benar"

Post a Comment

0 Comments