About Me


Kualitas Pendidikan Anak Anak Tergantung Orang Tua


Oleh Sudono Syueb
Dosen Fikom- Unitomo, Surabaya

Harianindonesiapost.com Sebagai orang tua, kita diperintahkan oleh Allah untuk menjaga diri kita terlebih dahulu  agar tidak terperosok ke dalam neraka, setelah itu kita jaga juga anak anak kita dan keluarga kita yang lain agar tidak menjadi bahan bakar neraka. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an Surat At-Tahrim Ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ qū anfusakum wa ahlīkum nāraw wa qụduhan-nāsu wal-ḥijāratu 'alaihā malā`ikatun gilāẓun syidādul lā ya'ṣụnallāha mā amarahum wa yaf'alụna mā yu`marụn

Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

6. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta melaksanakan Syariatnya, lindungilah diri kalian dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepada kalian dan meninggalkan apa yang Allah larang dari kalian, serta lindungilah keluarga kalian dengan apa yang dengannya kalian melindungi diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Yang menyiksa penghuninya adalah para malaikat yang kuat dan keras dalam perlakuan mereka. Mereka tidak menyelisihi perintah Allah, sebaliknya mereka senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

 Dalam Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia menyatakan,

6. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, jauhkanlah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka dengan meninggalkan kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan. Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia (kafir) dan batu-batu (berhala yang disembah). Neraka itu dijaga oleh malaikat-malaikat yang jumlahnya ada 19 malaikat yang memiliki sikap kasar, badannya sangat keras. Mereka tidak pernah melakukan kemaksiatan terhadap perintah Allah sebelumnya dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya di masa yang akan datang

Dalam  Tafsir Al-Wajiz , Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili mengatakan, Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta beramal dengan syariat Allah; Ambillah perkara untuk menjaga diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari kemarahan dan kebencian Allah dengan mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa balasan bagi yang membangkang dan melanggar perintah-perintah Allah adalah masuknya kalian ke dalam neraka. Dan neraka ini bahan bakarnya adalah kayu api dan manusia yang menyala-nyala, sebagaimana juga di dalam neraka ini ada malaikat yang kuat dan bengis hatinya yang akan mengadzab penghuni nereka, mereka para malaikat tidak bermaksiat kepada apa yang Allah perintahkan dari segala kondisinya; Bahkan mereka melaksanakan perintah Allah dengan tanpa nanti-nanti.

 Sedang Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam Am Nafahat Al Makkiyah menjelaskan, Yakni wahai orang-orang yang Allah karuniakan keimanan kepada mereka, kerjakanlah hal yang menjadi lazim (bagian) dari keimanan serta syarat-syaratnya.
Yaitu dengan mendorong diri kita untuk menaati Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menjauhi larangan-Nya, bertobat dari sesuatu yang membuat Allah murka dan mendatangkan azab-Nya.

Yaitu dengan menta’dib (mengajarkan adab) dan mengajari mereka agama serta mendorong mereka melaksanakan perintah Allah. Oleh karena itu, seorang hamba tidaklah akan selamat sampai ia dapat melaksanakan perintah Allah pada dirinya dan pada orang yang berada di bawah kekuasaannya seperti istri, anak dan sebagainya.


Seperti orang-orang kafir.

Seperti patung-patung yang mereka sembah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (Terj. Al Anbiyaa’: 98). Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati neraka dengan sifat-sifat ini agar hamba tidak meremehkan perintah-Nya.

Yakni kasar akhlaknya dan keras bentakannya sehingga mereka takut ketika mendengar suaranya dan melihat mereka. Jumlahnya ada sembilan belas malaikat sebagaimana diterangkan dalam surah Al Muddatstsir: 30.

Dalam pada itu, Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam Hidayatul lnsan bi Tafsiril Qur'an
— هداية الإنسان بتفسير القران
menjelaskan, Wahai orang-orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dengan mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dari api neraka, yakni dari murka Allah yang menyebabkan kamu diseret ke dalam neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; ada manusia yang dibakar dan ada manusia yang menjadi bahan bakar; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka sehingga tidak ada malaikat yang bisa disogok untuk mengurangi atau meringankan hukuman; dan mereka patuh dan disiplin selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. 7. Wahai orang-orang kafir! janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini, karena rasul sudah datang, informasi sudah disampaikan dan ayat Al-Qur'an sudah dibacakan. Sesungguhnya kamu pada hari ini hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan, sebanding dengan perbuatan kamu, karena Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya sedikit pun.

Sementara itu dalam riwayat diceritakan bahwa
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pernah berpesan, “Didiklah keluarga kita menjadi manusia beradab dan berilmu.” Pesan ini bermakna bahwa orang tua wajib memberikan pendidikan yang benar bagi anak-anaknya. Orang tua adalah pendidik (guru) yang utama jika dibandingkan dengan sekolah, universitas, termasuk juga pesantren.


Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memperingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Orang tualah yang menjadikan anak-anaknya Yahudi, Nasrani, atau Majuzi. Di era kini, orang tualah yang berperan utama menjadikan anaknya liberalis, sekuleris, feminis, atau materialis. Hal ini menunjukkan pendidikan orang tua, agar bisa mendidik anaknya dengan baik, sangatlah penting dan bahkan wajib. Ironisnya, kurikulum pendidikan nasional, mulai TK sampai tingkat doktoral, tidak menekankan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Kurikulum dirancang utamanya agar pelajar/mahasiswa menjadi buruh/karyawan yang baik, bukan menjadi manusia yang baik.

Jadi, menguasai ilmu untuk mendidik anak dengan baik adalah wajib. Setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang benar. Hak itu akan mereka tuntut pada orang tua mereka kelak di akhirat. Seminar ini akan memaparkan konsep pendidikan yang benar, disertai kiat-kiat agar kita mampu melaksanakan amanah sebagai orang tua, dengan menjadi guru keluarga bagi anak-anaknya sendiri. Kita yakin, berawal dari pendidikan keluarga yang benar, akan lahir generasi gemilang.

InsyaAllah, ke depan, akan muncul para pemimpin sejati dalam seluruh aspek kehidupan.

Post a Comment

0 Comments