About Me


Ketika Seorang Qadhi Memutuskan Perkara Berdasarkan Mimpi


Diceritakan lagi oleh Sudono Syueb

(Dosen Fokom-Unitomo, Surabaya)

Dengan keluguan dan kecerdasannya, Abu Nawas atau Nuwas sering mengingatkan orang orang kaya dan para pejabat negara yang dlbertindak sewenang wenang kepada rakyat tanpa takut sedikitpun. Di antara kisahnya   adalah ketika Abu Nawas harus menghentikan sepak terjang sang Qadhi/hakim yang tidak adil sewenang wenang dan dzalim, yang berani menetapkan  perkara  berdasarkan Mimpi.

Alkisah, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, datanglah dua orang tamu ke padepokannya. Yang pertama  wanita tua penjual kahwa (kopi), sedangkan yang satunya seorang pemuda berkebangsaan Mesir.


Wanita tua itu mengadukan nasibnya pemuda itu yang hartanya dirampas seorang Qadhi/Hakim hanya berdasarkan mimpi. Pemuda berkebangsaan  Mesir itu membenarkannya. 
   Setelah mendengar pengaduan dua orang itu, Abu Nawas lalu menghentikan taklimnya dan menyuruh murid-muridnya untuk menutup kitab mereka.

"Sekarang pulanglah kalian dan ajaklah teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta linggis, lalu mendatangi rumah Qadhi" ujar Abu Nawas.

Meskipun para murid merasa heran dengan perintah gurunya, namun mereka tetap patuh dengan perintah sang guru.


Pada malam hari mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta sang guru lalu menuju rumah sang Qadhi

Merusak Rumah

Sesampai di rumah sang Qadhi, Abu Nawas menyuruh merusak dan merobohkan rumah sang Qadhi yang baru saja beberapa bulan  terpilih dan bekerja. Abu Nawas juga menegaskan, kalau ada yang menghalangi kalian, lawan.

Mereka kemudian menghancurkan rumah sang Qadhi dengan bersemangat. Masyarakat sekitar yang melihat ulah mereka merasa heran tapi mereka tidak berani mencegah sama sekali.

Melihat rumahnya dirusak, sang Qadhi marah besar namun tak berdaya karena kalah massa.
"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?, tanya sang Qarhi
"Guru kami, Tuan Abu Nawas!", jawab mereka sambil tetap merobohkan rumahnya hingga benar-benar rata dengan tanah.
"Dasar Abu Nawas provokator, suka mimpin people power, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda Raja, nyahok ente," teriak sang  Qadhi penuh amarah.

Benar, pada keesokan harinya sang  Qadhi mengadukan kejadian malam itu sehingga Abu Nawas dipanggil agar segera menghadap Baginda Raja.

Baginda raja menanyakan apa alasan Abu Nawas melakukan perusakan tersebut. Namun bukan Abu Nawas jika tidak memiliki jawaban yang jitu.

Dijelaskan oleh Abu Nawas bahwa dia melakukan pengrusakan karena beberapa hari yang lalu bermimpi dan di dalam mimpi tersebut, tuan Qadhi memintanya untuk merusak rumahnya karena ingin rumah yang baru.


Lalu sang raja menanyakan bagaimana Abu Nawas dapat hukum hanya berdasarkan mimpi saja.
Mendengar pertanyaan itu Abu Nawas dengan tenang menjawab,
"Hamba juga memakai hukum Tuan Qadhi yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas, seketika wajah sang Qadhi menjadi pucat dan hanya terdiam seribu bahasa.
"Hai Qadhi, benarkah engkau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda Raja.
Tapi yang ditanya tiada menjawab, wajahnya nampak pucat dan tubuhnya gemetaran karena takut.


Kemudian Abu Nawas diminta untuk menjelaskan.
Dengan tenang Abu Nawas menceritakan bahwa ada seorang pemuda Mesir yang memiliki harta melimpah ruah. Namun kemudian dia bermimpi menikah dengan anak sang  Qadhi. Dia memberikan mas kawin yang sangat banyak. Lalu mimpi itu cepat menyebar dan sampai ke telinga sang Qadhi.

Lalu Tuan Qadhi memanfaatkan mimpi itu dengan meminta harta pemuda itu untuk mas kawin anaknya. Padahal itu hanyalah mimpi belaka sedang menurut sang Qadhi itu harus dilaksanakan, sehingga pemuda itu jatuh miskin.

Setelah Baginda Raja cross ceck dengan mendatangkan pemuda Mesir itu, akhirnya Baginda Raja sadar jika Qadhi yang ditunjuknya itu adalah orang dzalim. Kemudian raja memberikan hukuman dengan mengambil harta sang kadi dan diberikan kepada pemuda Mesir tersebut.

Lalu sang Qadhi dijebloskan ke dalam penjara karena telah berbuar zalim dan menyalahgunakan posisi dan wewenang.(misbah/ed)

Post a Comment

0 Comments