About Me


Hj Noor Aida Hayati, Isteri Mantan Asisten Gubernur Sukarwo, Berpulang ke Rahmatullah

Laporan Tom Mas'udi dan Sudono


Harianindonesiapost.com Telah berpulang ke Rahmatullah, isteri,  ibu, nenek, saudari kami Hj. Noor Aida Hayati binti KH Darmawi Munawir dalam usia 68 tahun, pada hari Sabtu 20 April 2019 M (15 Sya'ban 1440 H) jam 23:15 di RS Islam Jemursari Surabaya.

Jenazah disemayamkan di rumah duka jl Ngagel Jaya Utara 2/22 sebelum dishalatkan di Masjid Baitul Falah dan dimakamkan di TPU Keputih Sukolilo Surabaya  bakda shalat dhuhur Ahad 21 April 2019.

Semoga Allah SWT  memerikan ampunan, ridlo dan jannah Nya kepada almarhumah."

Demikian sekelumit berita duka yang dikirim oleh Ir. Chairul Djaelani, suami almarhumah yang  mantan Asisten II Sekda Provinsi Jatim bidang ekonomi, di grup whatsapp Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Jawa Timur.


Mantan Gubernur Jatim Sukarwo, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya berkesempatan memberikan penghormatan terakhir.
Bahkan KH Abdus Shomad Bukhari ( Ketua MUI Jatim) menjadi imam shalat jenazah di rumah duka sebelum akhirnya di shalatkan oleh ratusan jamaah di masjid Baitul Falah , tak jauh dari kediaman keluarga.

Almarhumah meninggalkan dua orang putri, seorang putera dan tujuh orang cucu.
Mereka adalah Chairiyah Ratna Savitri SE MMT yang bersuamikan seorang pria Belanda Martijn Wieriks dan dikarunia dua anak: Jan Sigra Wieriks serta Sofia Hafsa Wieriks.


Putera kedua almarhumah bernama dr. Hayat El Chair SpTHT KL yang menikah dengan Dian Ayu Lukitasari dan dianugerahi tiga anak: Laeticia Lathifa El Chair, Zayn Athaya El Chair serta Hatta Alvarendra El Chair.

Puteri ketiga almarhumah yakni dr. Elissa Chairani SpBM yang saat ini tengah menyelesaikan studi di Kagoshima University di Jepang. Dia Menikah dengan Muhammad Kamil dan dikarunia dua anak, Kiara Naira Kamil yang bersaudarakan Kai Abdul Jabbar.

Menurut penuturan puteri pertama almarhumah, Chairiyah Ratna Savitri  yang akrab dipanggil Nana, ibundanya dirawat di Rumah Sakit Islam Surabaya sejak 11 april lalu karena Hepatoma liver cancer. "Sekitar sepekan sebelum dirawat di rumah sakit, mama sempat menyampaikan  kepada salah seorang anggota dekat keluarga bahwa Beliau siap jika sewaktu-waktu harus menghadap Sang Khaliq". kata Nana.
"Mama adalah tipe wanita pintar, tidak gaptek dan selalu keep in touch dengan perkembangan teknologi. Mama juga yang mensupport Abah dengan komputer dan gagdget dalam hal karir profesional maupun kegiatan sosial seperti ketika Abah  menjadi Ketua KB-PII Jatim. Mama adalah salah seorang sekretaris", tambah Nana.
Karena keaktifan dan kecerdasannya, ketika muda, tahun 1979, almarhumah terseleksi dalam  pertukaran pemuda ke Jepang. " Nama programnya adalah SSEAYP (Ship for South East Asia Youth Program)" , kenang Nana.


Bagaimana kesan satu-satunya putera almarhumah? " Mama adalah Ibu yang sangat sabar, tekad dan semangatnya tinggi, dan  suka menyambung silaturahim dengan teman maupun kerabat. Beliau juga yang merekatkan teman dan handai taulan yang lama tidak tersambung", tutur putera almarhumah, dr. Hayat El Chair

" Betul, almarhumah gemar menyambung silaturahim. Dua bulan lalu ketika kami takziah ke salah seorang alumnus PII, almarhumah sempat menyampaikan keinginannya untuk mengumpulkan teman- teman sejawat PII, mudah-mudahan kami bisa merelealisasikannya, tutur Hari Astuti, mantan aktifis PII Surabaya akhir tahun 60 an yang juga Ketua Muslimat Partai Bulan Bintang Jatim.


Hj. Noir Aida Hayati yang lahir tanggal 24 Oktober 1951 di Banjarmasin  silam itu telah tiada meninggalkan goresan indah di mata keluarga, kerabat, dan sahabat-sahabatnya. Kata ikhlas adalah ungkapan tepat melepas kepergiannya. " Kami berkesempatan mendampingi Mama hingga Beliau berpulang. Bahkan adik saya yang masih di Jepang terus berkomunikasi melalui video call dengan Beliau. Dan puncak keikhlasan kami adalah ketika Abah menuntun Mama  dengan kalimah thayyibah Laa ilaaha illallah hingga Mama menghembuskan nafas terakhir', pungkas Nana.

Post a Comment

0 Comments