About Me


Hanya Karena Cinta Ditolak Banyak Lelaki Jadi Pembunuh


Oleh: Sudono Syueb

(Alumni FISIPOl UGM, Yogyakarta dan sekarang Mengajar di Fikom-Unitomo, Surabaya)


   Harianindonesiapost.com  Sering kali kita baca berita koran dan media OL, dengar dari radio dan dengar-lihat dari tv tentang ada seorang laki laki yang naksir atau melamar seorang perempuan, baik masih gadis atau sudah janda, ditolak, lalu perempuan itu disakiti hingga cacat seumur hidup, atau dibunuh. Bahkan ada yang diperkosa dulu sebelum dibunuh.  
   Laki laki apakah kita ini? Yang begitu mudah melukai dan atau membunuh anak orang hanya karena cinta ditolak?. Apa dikira  anak orang itu dianggap barang atau bahkan binatang yang menjijikkan hingga hingga seenaknya disakiti dan atau dibunuh?
    Perilaku biadab laki laki yang seenaknya membunuh perempuan hanya karena cintanya ditolak itu barusan dialami oleh seorang perempuan kandidat dokter, bernama Aasma Rani, di Pakistan, yang dibunuh laki laki yang cintanya ditolak.
    Simak ceritanya yang menyedihkan dibawah ini seperti yang ditulid oleh Maharani Kusuna Daruwati dalam laman Nikita.id yang diterbitkan LINE facebook.

"Tolak Ajakan Nikah, Mahasiswi Kedokteran Ditembak Mati Seorang Pria. Tak Henti Sebut Namanya Sampai Ajal Menjemput"

    Pernikahan menjadi salah satu hal sakral yang mungkin didambakan banyak pasangan.

Ajakan menikah seharusnya menjadi hal yang menggembirakan dan berakhir romantis.
   
    Namun tidak bagi perempuan ini, yang harus berakhir maut setelah menolak lamaran seorang pria.

Seorang siswa MBBS tahun ketiga dari Abbottabad Medical College ditembak mati di kampung halamannya di Kohat, Pakistan.

Mengutip dari Tribun Timur, perempuan yang diketahui bernama Aasma Rani ini meinggal setelah ditembak oleh seorang pria.

Penembakan dilakukan pria itu lantaran lamarannya pada Rani telah ditolak.

Pria yang menembak Rani ini diduga bernama Mujahidullah Afridi.

Terdakwa, Mujahidullah, yang ingin menikahinya menembaknya, karena menolak lamarannya.

Ia adalah seorang pria dengan latar belakang politik yang kuat.

Aasma Rani sendiri adalah seorang mahasiswi kedokteran tahun ketiga di Abbottabad Medical College tewas.

Aasma terus menerus menyebutkan nama pembunuhnya sebelum meninggal.

Insiden ini terjadi pada 27 Januari lalu ketika korban sedang bersama kakak iparnya.

Seperti dikutip dari Gridpop.id, Rani ketika itu berada di Kohat untuk vaksinasi.

Ia baru saja meninggalkan becak bersama saudara perempuan iparnya ketika Mujahid, ditemani oleh saudaranya, Sadiqullah, melepaskan tembakan.

Mujahid pun dikabarkan langsung menembak Rani tiga kali.

Gadis itu telah dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya meninggal karena luka-lukanya keesokan harinya. 

Mata Rani hampir tidak bisa terbuka sebelum kematiannya.

Namun, ia masih berusaha kuat untuk menyampaikan sesuatu dalam video.

Dalam video Rani menyebutkan bahwa Mujahidullah Afridi adalah pria yang menambak dirinya.

Keluarga Rani menduga Mujahidullah dendam pada Rani karena ia menolak lamarannya.

Mujahid bahkan sempat menyergap Rani di dekat rumahnya.

Keluarga Aasma menuduh pelaku telah mengeluarkan ancaman sebelumnya.

Ayah Aasma telah memohon keadilan dari pejabat tinggi.

Mereka juga memberi tahu polisi bahwa Mujahid adalah keponakan pemimpin lokal yang berpengaruh dan khawatir dia akan menggunakan pengaruhnya untuk membuat keponakannya lolos.

Namun, pihak berwenang dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa polisi adalah lembaga penegak hukum independen.

Mereka akan melanjutkan penyelidikan secara profesional dan membawa pelaku ke pengadilan.

"Yakinlah tidak akan ada bantuan khusus dan pelaku akan segera ditangkap," tambahnya.

Polisi Khyber Pakhtunkhwa menghubungi Badan Investigasi Federal (FIA) karena mengeluarkan surat perintah atas tersangka Mujahid.

Ketika pertama kali melaporkan kasus penembakan itu, kakak Rani, Muhammad Irfan menyebutkan dua nama kakak beradik sebagai pelaku, yaitu Mujahidullah Afridi dan Sadiq Ullah.

Ullah berhasil diciduk di Kohat sementara Mujahidullah belum ditemukan.

Selama penyelidikan, terungkap bahwa Mujahid Afridi telah meninggalkan Pakistan ke Arab Saudi.

Dia mengatakan terdakwa telah berangkat ke bandara Islamabad segera setelah melakukan kejahatan.

Sebuah tim investigasi gabungan (JIT) juga telah dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan mahasiswa kedokteran ini.

Post a Comment

0 Comments