About Me


Fatimah Al Fihr Pendiri Perguruan Tinggi Islam Pertama di Dunia.

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Fisipol-UGM, Yogyakarta dan Pengajar di FIKOM-UNITOMO, Surabaya)


Harianindonesiapost.com Selama  ini nama Fatimah yang kita kenal dalam Sejarah Kebudayaan Islam, mungkin hanya Fatimah Az Zahra putri Nabi Muhammad SAW, istri Ali bin Abu Tholib, yang melahirkan Hasan ra dan Husein Ra, yang kelak dari Hasan ra dan Husein ra ini lahir para lmam Syiah dan para Habaib Sunni.
   Ternyata masih ada nama Fatimah lain, yaitu Fatimah Al Fihr, mungkin nama ini tidak begitu terkenal dan juga kita kenal, karena oleh Barat dan Eropa namanya sengaja  disembunyikan. Kenapa, ya kenapa?
   Karena ternyata Fatimah Al Firh adalah seorang muslimah dan pelopor serta pendiri Perguruan Tinggi Islam  pertama di dunia, ketika Eropa dan Barat masih gelap gulita, kotor dan buta huruf.
    Fatimah Al Fihr adalah wanita muslimah dari kota Qairouan, sekarang dikenal dengan nama Tunisia. Fatimah, putri dari Mohammad bin Abdullah al-Fihri saudagar kaya di kota Fes ini sudah mendonasikan harta warisan dari kekayaan ayahnya untuk pendirian universitas Islam dengan nama Universitas Qairouan, atau Universitas al-Qarawiyyin.

Universitas al-Qarawiyyin berdiri pada tahun 859 M di kota Fes, Maroko. Sepeninggal ayahnya, Fatimah dan saudara perempuannya bernama Maryam menggunakan harta warisan ayahnya untuk hal yang lebih bermanfaat, yaitu membangun masjid. Maryam membangun masjid al-Andalusi pada tahun 859 M, sedangkan Fatimah membangun masjid al-Qarawiyyin, yang kemudian menjadi sebuah universitas. Keluarga Mohammad bin Abdullah al Fihri bukanlah penduduk asli Fes. Akan tetapi ia termasuk imigran dari Tunisia pada tahun 818 M. Pada tahun tersebut, Tunisia sedang dilanda pemberontakan kepada penguasa Qairouan (Tunisia), yaitu Aghlabid. Pemberontakan terhadap Aghlabid gagal hingga menyisakan peristiwa pengusiran sekitar 2000 keluarga dari Qairouan. Salah satunya adalah keluarga al-Fihri. Kemudian, keluarga al-Fihri bermigrasi ke Fes yang saat itu dipimpin oleh Idris II, putra Idris I dari Bani Idrisiyah bermazhab Syiah.
    Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah sebagai berikut ini: Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.

Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra. Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekedar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.

Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ. Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan Muslim Timur Tengah yang lebih luas. 

Post a Comment

0 Comments