About Me


Ayahnya Nabi Muhammad Diselamatkan Dukun Perempuan

Oleh: Sudono Syueb

(Pernah Nyantri di YTP, Kertosono. Sekarang Pengajar di Fikom Unitomo, Surabaya)

Harianindonesiapost.com Mendatangi tukang ramal lalu minta diramal nasibnya di masa depan  itu dilarng oleh Allah dan Rasulullah. Karena itu termasuk hal yg ghoib dan hanya Allah Ta'ala saja  yang mengetahuianya.  Sebagaimana firmanNya dalam QS  Al An'am 59:


وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ


” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS. Al An’am: 59).

Begitu pula dalam ayat lainnya disebutkan,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“ Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah. ” (QS. An Naml: 65).


Al Munawi berkata, “Jika meyakini bahwa tukang ramal mengetahui perkara ghaib (dengan sendirinya), maka ia kafir. Jika keyakinannya bahwa jin yang menyampaikan berita padanya dari berita malaikat dan ilham yang diperoleh seperti itu, lantas dibenarkan, ini tidak sampai kafir.”

   Nabi Muhammad juga melarang umatnya mendatangi dukun untuk minta diramal.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohehnya, dari salah seorang istri Nabi, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :


"من أتى عرافا فسأله عن شيء فصدقه لم تقبل له صلاة أربعين يوما"
          “Barang siapa yang mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”.

           Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد ". رواه أبو داود.
          “Barang siapa yang mendatangi seorang dukun, dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad” (HR. Abu Daud).


           Dan diriwayatkan oleh empat periwayat  dan Al Hakim dengan menyatakan : “Hadits ini shahih menurut kriteria Imam Bukhori dan Muslim” dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد"
          “Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesunggunya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad”.
          Abu Ya’la pun meriwayatkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud seperti yang tersebut di atas, dengan sanad Jayyid.


          Al Bazzar dengan sanad Jayyid meriwayatkan hadits marfu’ dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

"ليس منا من تطير أو تطير له، أو تكهن أو تكهن له، أو سحر أو سحر له، ومن أتى كاهنا فصدقه فقد كفر بما أنزل على محمد " رواه البزار بإسناد جيد.
         
 “Tidak termasuk golongan kami orang yang meminta dan melakukan Tathoyyur, meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan, dan barang siapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad.
           Hadits ini diriwayatkan pula oleh At Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas tanpa menyebutkan kalimat : “dan barang siapa mendatangi …”dst.
         Selanjutnya ust. Baits mengatakan,  Imam Al Baghowi  berkata : “Al Arraf (peramal) adalah orang yang mendakwahkan dirinya mengetahui banyak hal dengan menggunakan isyarat-isyarat yang dipergunakan untuk mengetahui barang curian atau tempat barang yang hilang dan semacamnya. Ada pula yang mengatakan : ia adalah Al Kahin (dukun) yaitu : orang yang bisa memberitahukan tentang hal-hal yang ghoib yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Dan ada pula yang mengatakan : ia adalah orang yang bisa memberitahukan tentang apa-apa yang ada dihati seseorang”.
          Menurut Abul Abbas Ibnu Taimiyah : “Al Arraf adalah sebutan untuk dukun, ahli nujum, peramal nasib dan sejenisnya yang mendakwahkan dirinya bisa mengetahui hal hal ghaib dengan cara-cara tersebut.”
          Ibnu Abbas berkata  tentang orang-orang yang menulis huruf huruf أبا جا د  sambil mencari rahasia huruf, dan memperhatikan bintang-bintang : “Aku tidak tahu apakah orang yang melakukan hal itu akan memperoleh bagian keuntungan di sisi Allah”.

   Akan tetapi yang perlu diketahu bahwa ayahnya Nabi Muhammad shollAllahu alaih yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib   ternyata diselamatkan oleh seorang tukang ramal perempuan dari penyembelihan ayahnya Abdul Muthalib karena NADZAR.
Demikian kisahnya;
    Ada riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas, kata ust. Baits,  bahwa Abdul Muthalib – kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bernadzar kalau punya anak laki laki 10 akan dikorbankan satu.  berikut riwayatnya seperti yang diceritakan oleh ust. Amii Nur Baits dalam konsultasi Syariah.cm, 

وقد كان عبدالمطلب بن هاشم نذر إن توافى له عشرة رهط أن ينحر أحدهم فلما توافى له عشرة أقرع بينهم أيهم ينحر فطارت القرعة على عبدالله بن عبدالمطلب وكان أحب الناس إلى عبدالمطلب فقال عبدالمطلب اللهم هو أو مائة من الإبل ثم أقرع بينه وبين الإبل فطارت القرعة على المائة من الإبل

Dulu Abdul Muthalib pernah bernadzar, jika dia memiliki 10 anak lelaki maka akan menyembelih salah satunya. Ketika Abdul Muthalib memiliki 10 anak lelaki, dia mengundi siapa anaknya yang akan disembelih. Ternyata yang keluar nama Abdullah. Sementara Abdullah adalah anaknya yang paling dia cintai. Kemudian Abdul Muthalib mengatakan, “Ya Allah, Abdullah atau 100 ekor onta.”
 Kemudian dia mengundi antara Abdullah dan 100 onta. Lalu keluar 100 ekor onta. (Tarikh at-Thabari, 1/497).

Lebih lanjut ust  Baits mengatakan, Mengenai latar belakang nadzarnya, disebutkan dalam riwayat  dari az-Zuhri dan Abu Mijlaz bahwa Nadzar Abdul Muthalib ini terkait rebutan zam-zam. (as-Sirah an-Nabawiyah as-Sahihah, Dr. Akram al-Umari,  hlm. 93).

Ketika Abdul Muthalib menggali zam-zam, banyak suku Quraisy yang berusaha merebutnya atau meminta agar dimiliki bersama. Namun Abdul Muthalib tidak bersedia. Sementara Abdul Muthalib tidak memiliki banyak keturunan lelaki. Akkhirnya dia bernadzar, jika memiliki 10 anak lelaki, maka akan disembelih satu. Dengan harapan, ketika anak lelakinya banyak, dia bisa lebih leluasa dalam menguasai zam-zam.

Dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum diceritakan lebih lengkap…

Ketika Abdul Muthalib memiliki 10 anak, diapun melaksanakan nadzarnya. Abdul Muthalib menyampaikan maksudnya ini kepada semua anaknya, dan merekapun mantaati ayahnya. Lalu 10 nama anaknya ditulis dan dimasukkan dalam undian. Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah.

Abdul Muthalib menggelendeng Abdullah menuju ka’bah dengan membawa sebilah pisau untuk penyembelihan. Banyak orang Quraisy melarangnya, terutama paman-pamannya dari Bani Makhzum, dan saudaranya Abu Thalib.


“Apa yang harus aku lakukan dengan nadzarku?” tanya Abdul Muthali kebingungan.

Ada yang menyarankan, untuk mendatangi dukun perempuan, dan minta saran darinya.

Dukun itu menyarankan, tulis nama Abdullan dan tulis 10 ekor onta. Lalu diundi, jika keluar nama Abdullan, gantikan dengan 10 ekor onta, sampai Allah menentukan pilihan dengan keluar 10 onta.

Lalu diapun kembali dan mengundi antara nama Abdullah dengan 10 ekor onta.

Undian pertama keluar nama Abdullah, digantikan dengan 10 ekor onta.

Diundi lagi, keluar nama Abdullah, digantikan 10 ekor onta… hingga 10 kali, baru keluar nama 10 ekor onta., hingga berjumlah  ekor onta. Sejak saat itu, diyat pembunuhan di tengah suku 100Quraisy ditetapkan 100 ekor onta. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 43 – 44)

Kejadian ini menunjukkan bagaimana perlindungan yang Allah berikan untuk terlahirnya Nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada peluang ayahnya meninggal sebelum menikah, namun Allah jaga kehidupan Abdullah dari keinginan Abdul Muthalib untuk menyembelihnya.

Mengapa disebut putra 2 manusia yang disembelih?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan Nabi Ismail. Dalam hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِم

 Sesungguhnya Allah memilih bani Kinanah di kalangan keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy di kalangan bani Kinanah. Lalu Allah memilih Bani Hasyim dari kalangan Quraisy. Dan Allah memilihku dari kalangan bani Hasyim. (HR. Muslim 6077, Turmudzi 3964 dan yang lainnya).

Sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan 2 manusia yang berencana akan disembelih, Ismail dan ayah beliau, Abdullah. Karena itulah beliau merupakan keturunan 2 manusia yang akan disembelih (Ibnu Dzabihain).

Disebutkan dalam riwayat, beliau bersabda,

أنا ابن الذبيحين

“Saya putra dua manusia yang akan disembelih.” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/151 – 155)

Allahu a’lam.

Post a Comment

0 Comments