About Me


Asal Usul Nama Abdullah Ayah Nabi Muhammad

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Sekarang jadi Guru Swasta)

Harianindonesiapost.com Masyarakat yang hidup sebel Nabi Muhammad, termasuk orang orang Qurais Nakjah Makkah dan Arab lainnya sejak zaman nabi Ibrahim as sudah mengenal Allah. Bahkan mereka menyebut Ka'bah yang dibangun oleh nabi Ibrahim itu dengan sebuan Baitullah (rumah Allah).

Maka tugas nabi Muhammad SAW, menurut ust Ahmad Sarwat, memang bukan mengenalkan bahwa Allah SWT itu ada. Itu sih mereka sudah pada tahu. Bahkan orang Arab jahiliyah kalau kita tanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan dan sebagainya, jawaban mereka adalah Allah

Memang bisa, tandas Sarwat,  karena memang itulah faktanya. Orang Arab sudah kenal siapa pencipta mereka. Dan Al-Quran menguatkannya. Silahkan baca ayat-ayat berikut ini:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah", maka betapakah mereka dipalingkan. (QS Al-Ankabut: 61)

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah", Katakanlah, "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami. (QS Al-Ankabut: 63)


Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah." Katakanlah, "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Luqman: 25)

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" niscaya mereka menjawab, "Allah." Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS Az-Zumar: 38)

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab, "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS Az-Zukhruf: 9)

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (QS Az-Zukhruf: 87)

   Selanjutnya ustad Sarwat mengatakan, yang tidak mereka pahami adalah bahwa Allah SWT itu berbicara dan berfirman serta menurunkan kitab suci dan serangkaian aturan. Bahkan mereka sangat asing dengan konsep nabi yang diutus. Mereka hanya tahu malaikan saja. Karena itulah mereka mendustai nabi, ketika nabi itu hanya berbentuk manusia biasa dan berjalan di pasar.


Dan mereka berkata, "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?" (QS Al-Furqan: 7)

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS Al-Furqan: 20)

 Jadi kalau orang Arab jahiliyah menamakan ayah Rasulullah SAW dengan nama Abdullah, sungguh bukan perkara aneh. Demikian juga lafadz bismillah, mereka sudah biasa gunakan. Tapi lafadz bismillahirrahmanirrahim, mereka tidak kenal. Karena tidak tahu bahwa Allah SWT punya sifat rahman dan rahim.


    Dalam kontek Tauhid, pengakuan eksistensi Allah oleh masyarakat Qurais sebelum kenabian dan kerasulan Muhammad bin Abdullah disebut sebagai Tauhid Rububiyah.
Tauhid Rububiyah adalah beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran yang berbunyi:

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar 39:62)

Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, termasuk orang Qurais zaman jahiliah, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah:

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 35-36)

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi rasulullah mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Allah,


Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?' (Al-Mu’minun: 86-89)

    Setelah sedikit banyak mengetahui asal mula nama Abdullah, maka selanjutnya kita coba  membicarakan  Abdullah wafat di akhirat kelak, termasuk ahli surga atau neraka? 

Menurut ustad Apit, dalam hal ini ada dua kubu besar ulama yang berselisih tentang statusnya di akhirat:

– Kubu pertama percaya bahwa bapak dan ibu nabi ini akan menjadi penghuni neraka. Salah satu dalil yang dipakai dalam menghukumi kedua orang tua nabi ini adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, At-Thabroni, dan Al-Bayhaqi, dengan lafadz dari Ma’mar: Seorang arab bertanya kepada nabi, “di mana bapakku?”. Jawab nabi, “di neraka?”. “Lalu di mana bapakkmu?” tanya orang arab itu lagi. ”Ketika kamu melewati kubur seorang kafir, maka sesungguhnya dia langsung berada di neraka” sanad hadits ini shahih menurut syarat syaikhani; Bukhori-Muslim [Sunan Ibnu Majah: Bab Janaiz, hal.105]. Al-Baihaqi dan At-Thabroni menambahkan, setelah menanyakan hal tersebut, orang arab tadi langsung masuk Islam. Untuk sedikit perenungan, lafadz-lafadz hadits yang menyebutkan ayah dan ibu nabi berada di neraka bertentangan dengan spirit ayat yang artinya: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15). Jadi bisa disimpulkan, sebelum turunnya perintah dan larangan tidak ada keburukan yang akan dikenakan adzab (sangsi), kecuali setelah Allah mengutus rasul-rasul yang membawa Syari’at-Nya. Bahkan jumhur ulama bersepakat ayat ini me-nasakh [menghapus] semua hadits yang berhubungan dengan permasalahan tadi ataupun sejenisnya, seperti hadits tentang status balita-balita dari kaum Musyrikin.

 Kubu kedua meyakini bahwa orang tua nabi termasuk ahli surga. Muhammad Fauzi hamzah dalam “Abdullah abun-nabi”-nya mengutarakan sebab dikategorikannya orang tua nabi termasuk ahli surga: 1] Karena mereka tergolong ahlu fathroh yang hidup diantara dua masa kerasulan. Dakwah nabi yang pertama tidak sampai pada mereka, dan dakwah nabi yang kedua sama sekali belum diketahui, sebab azal terlebih dahulu menjemput nyawa mereka. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Al-Aswad bin Sari’ RA menyebutkan: 4 macam golongan manusia yang protes pada hari kiamat: 
1] Seorang tuna rungu yang tidak mendengar sama sekali, 
2] Orang bodoh,
 3] Seorang tua yang pikun 
4] Seorang yang wafat pada masa fathroh…..
Orang yang mati pada masa fathroh berkata: Tuhanku tidak ada seorangpun dari rasulmu yang sampai kepadaku. Tuhan pun memutuskan keyakinan mereka lalu mengirimnya ke neraka. Maka barang siapa memasuki neraka [diantara mereka berempat, red], akan merasa dingin dan sejuk. Sedang yang tidak ingin memasukinya, tuhan akan menariknya dari jalur neraka. 2] Mereka masuk surga karena tidak berlaku syirik. Sebagian menyebutkan karena mereka mengikuti agama nenek moyangnya nabi Ibrahim, “Alhanifiyyah”

Tidak hanya kedua sebab tadi yang mengisyaratkan orang tua nabi layak menjadi penghuni surga, karena syafaat pun berlaku buat mereka. Rasulullah bersabda, “Mengapa banyak kaum mengatakan bahwa syafaatku tidak akan diperoleh keluargaku, sesungguhnya mereka akan mendapatkan syafaatku [Subulul Huda [1] : 298]. 

Wallahu A’lam bis-Showab.

Post a Comment

0 Comments