About Me


Allah Selalu Menutupi Aib Hamba-Nya

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni FISIPOL UGM, Yogyakarta dan sekarang pengajar di FIKOK UNITO, Surabaya)


Harianindonesiapost.com Sungguh Allah Maha Lembut, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan juga Maha Menerima taubat hambanya yang telah berbuat maksiat. Setiap malam Allah menunggu hambaNya yang telah melakukan maksiat di siang hari untuk bertaubat. Jika masih belum mau bertaubat di malam hari, Allah masih menunggunya di siang hari agar para hambaNya mau bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tanganNya di waktu malam agar pendosa di siang hari bertaubat, dan Allah membentangkan tanganNya di waktu siang agar pendosa di malam hari bertaubat.” (HR. Muslim)

Manakala pada suatu saat hamba ini kembali kepada Allah, maka Dia akan sangat gembira melebihi kegembiraan hamba itu sendiri. Mahasuci Allah, Dzat yang merajai segala raja namun gembira saat seorang hamba kembali kepadaNya, padahal hamba itu yang sebenarnya membutuhkanNya. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai Rabb yang demikian santun-Nya. Karenanya, Allah menamai diriNya dengan nama Al-Wadud (yang Mahacinta), tiada sesuatu pun yang menyamaiNya.


Karena sangat sayangya Allah pada hamba-Nya maka Allah senantiasanya menutupi setiap maksiat yang kita lakukan.
   Maka itu bersyukur dan berbahagialah kita karena Allah telah menutupi dosa dosa kita.
   Ini adalah hadiah Allah terbesar pada kita. Kita harus menerima “hadiah” Allah ini dengan senang hati. Ya, Allah menutupi kita saat melakukan kemaksiatan merupakan hadiah besar untuk kita. 
   Untuk itu, jangan sampai kita membuka aib kita sendiri pada orang lain.

Nah, jika sikap ini ia lakukan terhadap Allah yang Mahasantun lagi Mahamulia, maka pantas bila Allah akan memaafkan semua pendosa kecuali orang ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Semua umatku akan dimaafkan (dosanya) kecuali orang yang menampakkannya. Termasuk menampakkan dosa ialah bila seseorang melakukan dosa pada malam hari dan pada pagi harinya -padahal Allah telah menutupinya-  berkata, “Wahai Fulan, aku telah melakukan ini dan itu tadi malam.” Padahal semalaman Tuhannya telah menutupinya, di pagi harinya ia justru membuka tutup Allah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Di samping itu,  sikap yang perlu kita miliki saat Allah menutupi kita ialah menaati Allah dalam kesendirian kita sebagaimana kita telah bermaksiat dalam kesendirian kita. Dengan sedekah tersembunyi misalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Sesungguhnya sedekah tersembunyi itu bisa memadamkan murka Allah.” (HR. Thabrani)

Bisa juga dengan shalat beberapa rakaat di malam hari saat tidak ada orang yang melihat. Intinya, kita memiliki amalan tersembunyi yang berkesinambungan meski kecil. Meski hanya memberi makan seekor hewan misalnya, tetapi secara tersembunyi. Demikianlah para orang saleh menganjurkan agar kita memiliki amalan tersembunyi yang tidak diketahui oleh seorang pun, meski itu istri atau anggota keluarganya yang lain.


Yang lebih penting lagi, kita harus menjaga tutup Allah ini. Jangan sampai tutup Allah ini hanya bersifat sementara, lalu setelah setahun dua tahun dosa itu terbuka. Tutup ini harus berlanjut hingga akhir hayat kita. Caranya, kita berterima kasih kepada Allah atas tutup yang diberikanNya. Dengan ini Allah akan senantiasa menutupi aib dosa kita. Bahkan jika kita memerlukan tutupNya di kemudian hari, maka Allah akan memberikannya, bahkan bisa jadi akan menambahkannya. Allah berfirman:

“Ingatlah ketika Allah Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Cara lainnya, kita menutup aib orang lain. Melakukan apa yang Allah lakukan kepada kita. Bahkan jika dia nonmuslim sekalipun jika kita mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba di dunia melainkan Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Bayangkan kita berdiri dilihat oleh seluruh manusia dari manusia pertama hingga manusia terakhir nanti, ada rasa takut menyelinap kiranya aib dosanya terkuak di hari kiamat ini, aib dosa yang ia sembunyikan selama hidupnya. Bayangkan untuk pertama kalinya kita bertemu dengan Nabi Adam, lalu aib kita terbuka di hadapannya. Untuk pertama kalinya melihat Nabi-nabi lainnya, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan melihat dosa yang kita sembunyikan.

Dalam kondisi yang demikian,  mungkin saja bagi Allah bisa membuka atau menutupi dosa kita, tiba-tiba Allah memilih untuk menutupi kita seraya berkata:

إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ

“Sesungguhnya Aku telah menutupimu di dunia, maka Aku mengampuni dosa itu untukmu pada hari ini.” (HR. Bukhari)

Lalu buku catatan amal diberikan dan kita terima dengan tangan kanan kita, kita beri kabar gembira kepada semua orang, “Ini, bacalah buku catatan amalku!” kemudian kita dimasukkan ke dalam surga tanpa ada seorang pun yang mengetahui dosa tersembunyi kita.

Mengapa Allah lakukan semua ini untuk kita? Karena kita berusaha sekuat tenaga untuk menutupi aib saudara kita meski setan bersikeras dalam membujuk kita. Di hari kiamat inilah kita memetik buah prilaku kita. Demi Allah, ini adalah perasaan terindah yang dirasakan oleh manusia. Semoga Allah menutupi aib dosa kita dan menganugerahkan kepada kita surga.
   Berikut ini ada kisah teladan antara Nabi Musa as dengan orang yang telah bermaksiat  selama 40 tahun tapi ditutupi dengan rapi yang ada dalam buku, Fii Bathnii al-Huut oleh Syaikh Dr. Muhammad Al Arifi yang telah dinukil Abu Yazid T Muhammad Nurdin.

Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..


Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

Post a Comment

0 Comments