About Me


Abu Nawas Muda Penyair Pemabuk, Cabul, Kotor dan Anti Al Qur'an

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni Fisipol UGM, Yogyakarta dan Ponpes YTP, Kertosono )

Harianindonesiapost.com Di lndonesia ada  penyair yang, ketika baca puisi puisinya sambil minum bir dan mabuk. Ini terjadi pada abad 20 ini. Para vokalis band cadas juga ada yang melakukannya, bahkan disinyalir menggunakan narkotika. Katanya untuk menambah kepercayaan diri.
   Sebetulnya seniman mabuk itu bukan hal baru. Pada abad 8 M sudah ada penyair dari timur tengah yang melakukan itu. Dia suka mabuk. Dan ketika mabuk itu,  bicaranya ngawur dan jorok. Suka menghina agama dan kitab suci.

Dia adalah Abu Nawas.  Sebelum mendapatkan hidayah dan bertobat, Abu Nawas dikenal sebagai penyair kontroversial. Dalam  buku-buku sejarah menyebut Abu Nawas sebagai sastrawan cabul dan kotor.

Dalam keadaan mabuk karena minum khamr (arak atau cukrik istilah kita). Setelah itu Abu Nawas ‘mengigau’ atau berbicara tak karuan. Dalam kondisi begitu para pengagumnya menggap  dia sedang bersyair,   menggubah puisi. Tapi isinya membangga-banggakan minuman keras (puisi khumrayat). Karena itu Abu Nawas  sering keluar masuk penjara karena puisi-puisinya yang menghina agama itu.

Karena karya-karya yang dibuat ketika mabuk itu dan perilakunya yang tidak bermoral, sebagian ulama saat itu berpendapat, Abu Nawas adalah fasik (pelaku maksiat) bahkan kafir. Simak saja sebuah bait syairnya:

“Aku menyukai apa-apa yang Al-Quran larang
Dan aku menjauhkan diri dari apa-apa yang dibolehkannya”

Tidak hanya itu, Abu Nawas juga disebut-sebut sebagai gay, homoseksual, hal yang terasa asing di telinga kita. Tapi sebuah bait syairnya mengatakan demikian, misalnya: “Demi seorang pria muda, aku rela tinggalkan wanita”.

Walaupun Abu Nawas termasuk LGBT, namun dalam catatan sejarah, dia pernah kawin dengan salahsatu wanita yang masih familinya, tapi keesokan harinya perempuan itu diceraikannya karena ia tidak mencintainya. Abu Nawas juga diceritakan pernah mencintai seorang perempuan, bernama Jinan. Sayang, cintanya tak sampai.

Pilih Garam Atau  Lalat.

Perjalanan hidup seseorang selalu mengalami pasang surut moralitas. Demikian juga yang dialami  Abu Nawas. Dari penyair suka mabuk, anti Al Qur'an dan pengikut LGBT berubah total menjadi pribadi yang tercerahkan, agamis, suka beribadah dan i'tikaf di masjid. Pendek kata menjadi sangat Islamis. 
    Menurut suatu riwayat, pada suatu malam, pada bulan Ramadhan (diyakini sebagai Malam Qodar), dalam keadaan “teler” berat,  dia didatangi seseorang tak dikenal. Orang itu berkata: “Ya Abu Hani! Idza lam takun milhan tuslih, fala takun zubabatan tufsid”. Artinya, “Hai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikan yang merusak hidangan itu”.

Kata-kata itu sangat berkesan bagi Abu Nawas. Dia menyadari kesalahannya selama ini, merasa dirinya bukan garam, tapi lalat. Ia pun bertobat dan meninggalkan perilaku tidak Islaminya selama ini. Dia lalu menjadi seorang Abid, ahli ibadah, rendah hati, rajin i’tikaf di masjid, dan jarang berbicara.

Meski demikian, ia tetap menggubah syair. Namun, syair-syairnya berganti warna, menjadi syair-syair dzikir dan senandung doa. Salah satu karyanya yang paling terkenal dan monumental hingga kini, dijadikan senandung di pesantren-pesantren dan nasyid masjid oleh sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, adalah syair Al-I’tiraf (testimoni kesalahan) berikut ini:

. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim
.
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau.(misbah/Ed)

Post a Comment

0 Comments