About Me


Notulensi Diskusi Internal Warkaban

Oleh: Didik. Akhmadi, MComm

(Anggota Tim Ahli Kemitraan Warkaban dan Penggamat Budaya Politik)


Harianindonesiapost.com Paguyuban Warkaban baru saja melaksanakan diskusi yang melibatkan tim ahli Warkaban dengan kepala Dinas Kepariwisataan dan Dinas KUMKMP pada hari Jum'at, tanggal 15 Maret 2019, jam 14
00 sampai dengan 17.00, di Taman Bukit Palem Resort, Caringin, Bogor. Diskusi yang dilakukan paguyuban tersebut difasilitasi oleh Banhubda DIY di Jakarta yang melaksanakan kegiatan "Rembug Keistimewaan".

   Diskusi Paguyuban Warkaban tersebut dihadiri beberapa anggota Tim Ahli Warkaban djan Kadinas Pariwisata dan Kadinas KUMP. Sifat diskusinya berupa curah pendapat yang hasil notulensinya sebagai berikut:


1. Kadinas KUMKMP menyampaikan data kemiskinan yang tinggi untuk Kabupaten Bantul. Data kemiskinan bisa jadi tidak terlalu tepat, karena kemungkinan terjadi warga yang tergolong tidak miskin yang tercatat sebagai kelompok miskin. Data kemiskinan yang tepat memungkinkan pengembangan kebijakan pengentasan kemiskinan yang tepat pula. Angka tingkat kemiskinan tersebut perlu diperkecil melalui pelibatan berbagai pihak. Dinas KUMKMP berperan memajukan UMKM dan koperasi untuk pengentasan kemiskinan.

2. Kadinas KUMKMP menyampaikan gambaran umum UMKM yang berjumlah lebih dari 121rb, dan Industri- industri kreatif, serta koperasi-koperasi di Bantul yang perlu di suntik dengan berbagai kegiatan pelatihan management dan produksi. 

3. Usaha kecil di Bantul dikordinasikan dalam kelompok kelompok usaha, untuk memudahkan pembinaan dalam upaya peningkatan kelas dengan melalui Inkubasi bisnis dan pembentukan konsorsium, sentra-sentra, serta memberikan fasilitas pemasaran on line melalui kampung digital.

4. Koperasi yang ada di Bantul sebanyak 492, namun hampir sepertiganya telah dinyatakan mati dan dibubarkan oleh Kementerian Koperasi. Koperasi koperasi saat ini banyak dikelola oleh orang orang tua. Anak anak muda perlu masuk ke koperasi yang bersangkutan untuk adakan regenerasi.

5. Kadinas Pariwisata melakukan sosialisasi kepada para lurah terkait pentingnya peran pariwisata untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Awalnya, mereka tidak mengerti, tidak tertarik dengan peningkatan kesejahteraan melalui pariwisata dan tidak memahami bagaimana mengembangkan  pariwisata. Namun setelah diberikan penjelasan, mereka menawarkan tanah pelungguhnya untuk dikembangkan sebagai lokasi pariwisata. Selama ini,  mereka khawatir bahwa adanya pariwisata itu yang umumnya ditandai munculnya pengusaha pengusaha besar akan meminggirkan peran masyarakat lokal dan pelaku usaha kecil. Namun dijelaskan bahwa pengusaha besar dan kecil itu memiliki pangsa pasar yang tersendiri. Agar tidak menyisihkan peran mereka, nanti bisa dibuat regulasi agar masyarakat setempat turut dilibatkan dalam pengelolaan pariwisata.

6. Pariwisata perlu dikembangkan melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan peran lima stakeholder utama, yaitu:  komunitas masyarakat, pengusaha, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan media. Media ini bisa ragam media sosial yang dikembangkan oleh generasi milenials dan juga termasuk TVRI.

7. Pariwisata Bantul perlu menjajagi pemasaran pariwisata dengan target para orang tua pensiunan dari Jepang.

8. Pada saat ini, pengembangan pariwisata di Bantul cukup menggunakan kebijakan kebijakan kepariwisataan yang tersedia, tidak perlu sampai mengupayakan terbitnya regulasi kawasan ekonomi khusus (KEK) kepariwisataan.

9. Pemda Bantul perlu memiliki gambaran berapa keseluruhan  dana dana pembangunan dari pusat yang tersebar di seluruh dinas.

10. Warkaban perlu mengembangkan tata kelola yang disepakati pengurus terkait dengan pengembangan peran kemitraan Warkaban terhadap Pemda Bantul.

11. Warkaban telah mendapatkan apresiasi dari Bupati dengan diutusnya empat kepala dinas untuk hadir dalam acara diskusi. Pada level pemkab, Warkaban sudah mendapatkan keterbukaan akses. Untuk meningkatkan peran Warkaban, Warkaban bisa melakukan pendalaman akses sampai ke lurah lurah.

12. Warkaban bisa berperan sebagai payung kordinasi terhadap komunitas komunitas warga Kabupaten Bantul yang ada di seputaran Jadebotabek. Sebagai sarana penguatan, komunitas generasi muda yang ada di Jadebotabek perlu diajak diskusi diskusi yang terkait dengan pengelolaan pemerintahan sehingga pertemuan perkumpulan generasi muda Bantul yang ada di Jadebotabek bisa berjalan lebih produktif. Tidak seperti yang berjalan selama ini yang sifatnya hanya nongkrong nongkrong biasa.(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments