About Me


APA ARTI SEMUA ITU...?


Catatan : Ihsanuddin


( Alumni YTP, Kertosono, Nganjuk)


        Harianindonesiapost.com Kadang merupakan suatu mesteri dalam kehidupan yang sukar mencari jawabannya.
Disaat usiaku mamasuki hitungan belasan tahun, ada hal-hal yang terasa agak aneh,  dan kadang terasa agak lucu juga, suatu misal; ada tetangga ngamuk,  orang-orang menyebutnya kesurupan, eeh.., malah saya yang di panggil dimintai tolong untuk menentramkan (nambani) dalam istilah Jawa.
Sebenarnya saya enggan dan malu, mengapa harus saya, saya kan masih anak-anak, dan saya bisa apa.....?, Apa karena saya anak pondok an, atau ada pertimbangan lain..?.   Namun anehnya , setelah berbagai tindakan saya lakukan, orang tersebut sembuh juga.
Begitu juga kalau ada tetangga yang sakit gigi atau sakit perut, merekapun  sering minta saya yang mengobati, meskipun saya menolaknya karena saya merasa tidak bisa apa-apa, namun mereka tetap memaksa dengan berbagai rayuan, suatu misal  dengan ucapan ; " pun to mas San , Kulo sampean Paringin nopoke mawon , pokok ndugi tangan sampean" ( sudahlah mas San, saya sampean beri apa saja, asal dari tangan sampean).  Dengan ucapan itu, rasanya gak tega juga membiarkan orang tersebut pulang dengan kekecewaan.

          Kakek mesterius

     Pernah juga disuatu hari, sepulang dari sekolah, saya biasa duduk-duduk didepan rumah sdr.Syamsul Arifin (Yai Syamsul), tiba-tiba datang seorang kakek-kakek , rupanya kakek tersebut sepertinya habis melakukan perjalanan jauh, tampak pada raut wajahnya terhias oleh butiran-butiran keringat yang hampir meleleh.
Kakek tersebut duduk disamping saya sambil menyeka keringatnya. Tanpa kata, saya berdiri dan masuk rumah pak Michan (panan yai Syamsul), mengambil "Kendi" (tempat air minum tradisional) . Saya berikan kendi itu pada kakek tua itu, dan kakek itupun langsung meminumnya.
Pada saat saya akan mengembalikan kendi kedalam rumah, kakek itu menahan saya dan berkata : " Sek  sek nak, lenggah disek" ( sebentar nak, duduk dulu).
Akupun duduk disampingnya.
Kakek tersebut mengambil sesuatu dari kantong kain yang ia bawa, benda itu ternyata sebuah keris kecil sepanjang jari telunjuk orang dewasa, lalu dicabutnya keris itu dari wrangkanya, maka tampak kalau keris itu berdapur naga.
"Nak, gaman Iki Lo nak , cocok kanggo sampean... " (Pusaka ini Lo nak, cocok buat kamu), kata kakek.
Setelah itu saya disuruh memegang ujung keris itu, dan akupun mengikutinya, terasa di ujung jari saya berdenyut-denyut.
Aku jadi berpikir, "Ini karena denyut jantungku , atau keris ini yang berdenyut..?".
Belum sempat aku bicara apa-apa, kakek itu mendahului bertanya :"Piye nak , kroso..?" (Bagaimana nak, terasa..?),  Aku mengangguk.
Kakek itu memberikan keris itu kepadaku, tapi saya menolaknya , saya katakan kepadanya kalau saya gak punya uang, namun kakek itu mengatakan keris itu tidak dijual, tapi diberikan pada saya.

     Kakek itu sepertinya setengah memaksa agar saya menerima pemberiannya itu, tapi entah mengapa hati ini jadi bimbang . Jangan-jangan dengan adanya benda ini malah mematikan bibit iman yang masih lemah ini....
Saya katakan pada kakek tersebut , kalau saya tidak bisa merawat benda seperti itu.
Mendengar jawaban saya, kakek tersebut mengernyitkan keningnya lalu tersenyum, dan setelah itu beliau memasukkan kembali keris itu kedalam buntilan yang beliau bawa seraya berpamitan  ; " Yo wes nak , Yen ngono Mbah tak neruske lakon ." (Ya udah nak, kalau begitu kakek mau melanjutkan perjalanan).
Tanpa menunggu jawaban saya, kakek tersebut berdiri dan berjalan meninggalkan saya.

       Dalam peristiwa ini  saya  mengira tak ada yang melihat , gak tahunya pak Michan (paman Yai Syamsul Arifin) menyaksikan sejak awal . Entah apa yang ada dalam pikiran pak Michan, tiba-tiba beliau bertanya sambil tertawa , mengapa saya tidak mau menerima pemberian kakek itu tadi, lalu pak Michan menyuruh saya untuk melihat kemana  kakek-kakek itu pergi.
Tanpa pikir panjang, sayapun lari kesamping rumah dimana kakek tadi lewat, hingga gang lurus yang panjangnya antara 100m. kekiri dan 300m, kekanan , ternyata sudah tidak menemukan kakek tersebut.
Saya kembali, dan saya katakan kalau kakek itu tidak saya temukan, pak Michan pun tertawa sambil berkata " Wes Ojo digolek i..., kabeh mung cubo" ( Dah jangan dicari, semua cuma cobaan).

     Memang sepertinya banyak cobaan yang pernah saya alami, termasuk apa yang saya ceritakan diatas, yaitu dimintai tolong kalau ada orang kesurupan, sakit gigi, sakit perut dan sebagainya.
Mula-mula memang biasa, tapi pada akhirnya ada yang ngasih uang, meskipun saya menolaknya , namun mereka tetap memberi, katanya buat syarat,  hal inilah yang membuat saya tak habis pikir.
Kalau ini berlanjut, bisa-bisa saya jadi dukun dong.........?!
Kata paman saya ;" Ya gak apa-apalah, apa jeleknya menolong orang..".
Tapi menurut kata hati saya, kalau ini bertujut, bahaya dong .....?!

     Sebenarnya saya sangat heran, mengapa orang kampung saya punya anggapan kalau saya bisa mengobati ini dan itu, sementara kalau kepala saya sendiri pusing, saya bingung mencari obat....

      Suatu saat , saya bertanya pada paman saya, mengapa orang-orang kampung ini kok punya kepercayaan begitu kepada saya ?
Paman bercerita : Dulu ketika saya berusia 1 tahun pernah mengalami koma , atau orang menyebut mati suri  selama 9 hari . Artinya selama sembilan hari sembilan malam saya tidak makan dan minum, tidak buang air besar maupun kecil، tidak buka mata , menangispun tidak. Bahkan sebagian tetangga mengatakan kalau saya sudah meninggal.
Andaikan jaman sekarang, mungkin saya sudah masuk ICU .
Ketika malam kesepuluh, nenek saya menangis sambil berdoa; " Duh Gusti..., menawi lare meniko Panjenengan dadosaken Wiji, mugio Enggal Panjenengan Paringin usodo, anangeng menawi sampun dados papesten Panjenengan, mugio Enggal kapundut, kulo ikhlas duh Gusti..".  (Duh Gusti, jika anak ini Engkau jadikan bibit, semoga segera Engkau beri obat, tetapi apabila sudah menjadi kepastian-Mu, maka segeralah Engkau ambil, kami ikhlas duh Gusti..).
Pada tengah malam, di malam yang ke sepuluh itu tiba-tiba saya bangun langsung duduk dan berkata : "Mbah...maem....." , Spontan nenek bangun dan membuatkan bubur buat saya .
Nah, mungkin karena itulah orang-orang kampung saya mempunyai kepercayaan, kalau saya punya kelebihan.

Hanya Allah-lah yang Maha tahu.(Sudono Syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments